Yeti Nurhayti: Dari Dapur Rumah Makan ke Panggung Politik, Membawa Mimpi Besar untuk Ekonomi Cianjur
Oleh: Naura F

09 Agu 2026, 08:58:19 WIB Tokoh
Yeti Nurhayti: Dari Dapur Rumah Makan ke Panggung Politik, Membawa Mimpi Besar untuk Ekonomi Cianjur

Keterangan Gambar : Yeti Nurhayati


Pinusnews. Id - Tidak semua perjalanan politik dimulai dari ruang rapat, organisasi besar, atau gelar akademik yang panjang. Ada yang justru ditempa dari dapur rumah makan, dari bertemu pelanggan setiap hari, dari menghitung pemasukan dan pengeluaran, dari melihat bagaimana orang bekerja untuk memenuhi kebutuhan keluarganya.

Di Cianjur Selatan, kisah seperti itu dijalani Yeti Nurhayti.

Perempuan kelahiran Cianjur, 6 Agustus 1972, ini bukan lahir dari dunia politik. Pendidikan formalnya berhenti hingga tingkat SMA. Tetapi kehidupannya kemudian ditempa oleh dunia usaha dan interaksi langsung dengan masyarakat.

Dari Kecamatan Cidaun, Yeti membangun usaha rumah makan Ponyo Rasa, yang kemudian dikenal di kawasan Cianjur Selatan, di antaranya melalui keberadaannya di Cidaun dan Pagelaran.

Di tempat itulah Yeti belajar satu hal penting: ekonomi bukan teori. Ekonomi adalah kehidupan sehari-hari.

Ketika harga bahan baku naik, pengusaha merasakannya. Ketika daya beli masyarakat turun, pedagang merasakannya. Ketika lapangan pekerjaan sulit, keluarga-keluarga di sekitarnya ikut merasakannya.

Dan ketika sebuah usaha tumbuh, manfaatnya bukan hanya dirasakan oleh pemilik usaha, tetapi juga oleh orang-orang yang bekerja dan berinteraksi di dalamnya.

Pengalaman bertahun-tahun tersebut perlahan membentuk cara pandang Yeti terhadap persoalan masyarakat.

Dari Pengusaha Menjadi Caleg

Tahun 2024 menjadi titik penting dalam perjalanan hidupnya. Yeti memutuskan memasuki arena politik dengan mencalonkan diri sebagai anggota DPRD Kabupaten Cianjur dari daerah pemilihan 6 melalui Partai Amanat Nasional (PAN).

Keputusannya bukan tanpa risiko.
Dunia usaha dan dunia politik memiliki medan yang berbeda.
Namun, Yeti datang membawa modal yang tidak dimiliki semua politisi: pengalaman bersentuhan langsung dengan denyut ekonomi masyarakat.

Hasil Pemilu 2024 kemudian memberikan catatan penting. Yeti menjadi salah satu peraih suara terbesar dari PAN di dapil tersebut, dengan perolehan suara yang menempatkannya pada urutan kedua di internal PAN berdasarkan perolehan suara.

Bagi Yeti, angka tersebut bukan sekadar statistik pemilu. Di balik angka itu terdapat pilihan masyarakat:  Ada kepercayaan. Ada harapan. Dan tentu saja ada tanggung jawab.

Ia Tidak Ingin Cianjur Selatan Hanya Menjadi Pemasok Bahan Mentah

Justru setelah melewati kontestasi politik tersebut, gagasan Yeti mengenai ekonomi masyarakat semakin menemukan bentuknya. Ia melihat persoalan ekonomi Cianjur Selatan bukan semata-mata karena masyarakat tidak memiliki sumber daya. Sebaliknya, sumber daya itu tersedia di sekitar mereka: Ada sawah, ada gabah, ada lidi, ada sabut, ada hasil pertanian, ada hasil perkebunan dan ada berbagai bahan alam yang setiap hari bersentuhan dengan kehidupan masyarakat.

Tetapi pertanyaannya: Mengapa sebagian besar masih berhenti sebagai bahan mentah?
Mengapa masyarakat tidak mengambil nilai tambah yang lebih besar dari apa yang mereka hasilkan sendiri?

Pertanyaan tersebut kemudian menjadi salah satu gagasan yang ingin dibawa Yeti: “Jangan hanya menjual apa yang kita punya. Mari kita belajar mengolahnya menjadi sesuatu yang nilainya jauh lebih tinggi.”

Gagasan itu terlihat sederhana, tetapi jika dikerjakan secara serius, dampaknya bisa besar.
Gabah tidak hanya berbicara tentang hasil panen. Lidi tidak hanya berbicara tentang sapu.
Sabut tidak hanya dianggap sebagai limbah. Semua dapat menjadi bahan untuk menciptakan produk, usaha, pekerjaan dan pendapatan baru apabila masyarakat mendapatkan pengetahuan, teknologi, pendampingan dan akses pasar.

Ekonomi Kerakyatan Bukan Sekadar Membagi Bantuan

Di titik inilah cara berpikir Yeti berbeda. Ia tidak ingin masyarakat terus berada dalam posisi menunggu bantuan. Bantuan mungkin diperlukan dalam situasi tertentu. Tetapi bantuan bukan tujuan akhir.

Kemandirianlah yang harus menjadi tujuan.

Masyarakat harus memiliki kemampuan untuk menghasilkan sesuatu: Mengolahnya. Mengemasnya. Menjualnya. Dan menikmati hasil ekonominya.
Karena itu, konsep ekonomi kerakyatan yang ingin dikembangkan Yeti membutuhkan ekosistem. Masyarakat membutuhkan keterampilan. Pelaku usaha membutuhkan akses permodalan. Produk membutuhkan teknologi dan kualitas. Dan semuanya membutuhkan pasar.

Jika mata rantai tersebut dapat disatukan, maka bahan yang selama ini dianggap sederhana bisa berubah menjadi sumber penghasilan.

Pengalaman Rumah Makan Menjadi Laboratorium Kehidupan

Bagi sebagian orang, rumah makan mungkin hanya tempat menjual makanan. Bagi Yeti, dunia usaha adalah sekolah kehidupan. Di sana ia belajar menghadapi pelanggan, mengelola usaha, memahami harga, menjaga kualitas, mengatur tenaga kerja, membaca kebutuhan pasar dan bertahan dalam persaingan.

Itulah sebabnya ketika berbicara tentang ekonomi rakyat, Yeti tidak hanya berbicara berdasarkan teori. Ia berbicara dari pengalaman. Dari apa yang ia lihat. Dari apa yang ia jalani. Dan dari apa yang ia rasakan selama membangun usaha di Cianjur Selatan.

Politik sebagai Jalan Pengabdian

Masuknya Yeti ke dunia politik akhirnya memiliki hubungan erat dengan pengalaman tersebut. Ia tidak ingin politik hanya menjadi pertarungan mendapatkan kursi.

Baginya, kursi politik seharusnya menjadi sarana untuk memperjuangkan kebijakan yang menyentuh kehidupan masyarakat. Terutama masyarakat yang selama ini hidup dari sektor pertanian, usaha kecil, perdagangan dan sumber daya lokal.

Karena itu, jika politik berbicara tentang kesejahteraan, menurut Yeti pembicaraan tersebut harus sampai pada pertanyaan yang konkret:
Apa yang bisa diproduksi masyarakat?
Bagaimana produk itu bisa memiliki nilai tambah?
Siapa yang membeli?
Bagaimana masyarakat mendapatkan keuntungan yang layak?
Dan yang paling penting: Bagaimana masyarakat bisa mandiri tanpa terus bergantung kepada bantuan?

Dari Cidaun, Sebuah Gagasan Sedang Tumbuh

Yeti Nurhayti mungkin belum menjadi nama besar dalam percaturan politik nasional.
Tetapi justru di situlah menariknya perjalanan ini. Ia datang dari Cianjur Selatan. Ditempa oleh dunia usaha. Mengenal masyarakat dari jarak dekat. Kemudian mencoba masuk ke dunia politik dengan membawa pengalaman tersebut.

Kini, sebuah gagasan sedang ia bangun: mengubah potensi lokal menjadi kekuatan ekonomi masyarakat. Bukan dengan menunggu sesuatu datang dari luar. Tetapi dengan melihat kembali apa yang sebenarnya sudah dimiliki masyarakat.

Karena mungkin selama ini persoalannya bukan Cianjur Selatan tidak memiliki kekayaan.
Persoalannya adalah kita belum cukup serius mengubah kekayaan itu menjadi nilai.

Dan dari sinilah perjalanan Yeti Nurhayti baru dimulai.
Dari dapur rumah makan, menuju gagasan besar tentang ekonomi rakyat.




Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

View all comments

Write a comment