- Yeti Nurhayti: Dari Dapur Rumah Makan ke Panggung Politik, Membawa Mimpi Besar untuk Ekonomi Cianjur
- Pemkab Cianjur Tegaskan Program JKN Berlanjut dan Perbaiki Data untuk Layanan Lebih Tepat
- Kolam Labuh Jayanti: Akhir Penantian Nelayan untuk Perlindungan Perahu
- Dinas Pangan Cianjur Aktif Dukung Siraman Rohani untuk Bangun SDM Berakhlak
- Perumdam Tirta Mukti Cianjur Tingkatkan Pelayanan saat Kemarau, Menjaga Pasokan Air
- DPUTR Cianjur Perkuat Pelayanan Publik lewat Keputusan Konseling Pelayanan
- Pemprov Jabar Kawal Pelaksanaan Program 3 Juta Rumah Agar Sejahterakan Rakyat
- Demo di Cianjur Memanas, KH Deni Saepul Rohman: LGBT Bukan Perbedaan Tapi Penyimpangan
- Polres Cianjur Kirim Truk Tangki 5.000 Liter untuk Warga Krisis Air di Kampung Cibolang
- BGN Tetapkan Batas 10 Agustus untuk SLHS Dapur MBG: Sanksi Tutup Permanen jika Tak Memenuhi
Kolam Labuh Jayanti: Akhir Penantian Nelayan untuk Perlindungan Perahu

Keterangan Gambar : Pembangunan kolam labuh di Jayanti, Cidaun, mulai dikerjakan dengan menggunakan alat-alat berat.
Pinusnews.id - Penantian panjang para nelayan Pelabuhan Jayanti, Kecamatan Cidaun, Kabupaten Cianjur, akhirnya mulai menemukan titik terang. Pembangunan kolam labuh yang kembali dikerjakan pada 2026 ini disambut dengan antusiasme besar oleh komunitas nelayan setempat. Bukan sekadar proyek fisik, bagi mereka kolam ini adalah jawaban atas masalah keselamatan armada yang sudah mengganggu kehidupan nelayan selama puluhan tahun.
Selama puluhan tahun, nelayan di Jayanti menambatkan perahu mereka di laut terbuka yang rentan terhadap gelombang besar dan cuaca ekstrem. Akibatnya, kerusakan perahu dan kehilangan alat tangkap sering terjadi, yang otomatis berdampak pada pendapatan dan kesejahteraan keluarga nelayan. Dengan adanya kolam labuh, mereka berharap dapat meminimalkan risiko-risiko itu dan menjaga aset paling penting dalam usaha mereka: perahu.
Ketua Rukun Nelayan PPP Jayanti, Cacu Supriadi, menegaskan dukungan penuh kepada proyek ini. "Saya sudah sekitar 30 tahun menjadi nelayan. Selama itu pula belum ada tempat yang benar-benar layak dan aman untuk menyimpan perahu," ujarnya. Kata-kata Cacu menggambarkan kelelahan dan harapan yang panjang dari generasi nelayan yang selama ini berhadapan langsung dengan kerasnya alam.
Baca Lainnya :
- Polisi Ringkus Dua Pelaku Pembacokan Warga di Warungkondang
- Indahnya Berbagi Rezeki Bagi Keluarga H. Iva Vaiz
- Sosialisasi 4 Pilar Bersama Kapolres Cianjur
- Cianjur Kini Ada Aplikasi Layanan Pelanggan New PLN Mobile
- KPU Tetapkan Pasangan Calon Terpilih Bupati dan Wakil Bupati Cianjur
Rasa cemas setiap hendak melaut menjadi bagian hidup sehari-hari para nelayan sebelum kolam labuh dibangun kembali. Mereka sering pulang tidak hanya dengan tangan kosong, tetapi juga dengan kerugian akibat perahu yang rusak atau karam. "Kami berangkat dari rumah ingin melaut, tetapi saat sampai di pantai ternyata perahu sudah karam," kata Cacu, menggambarkan pahitnya realitas yang kerap mereka alami.
Pembangunan kolam labuh versi 2026 ini bukan yang pertama di Jayanti. Menurut Cacu, ada upaya serupa pada 2012 meski dalam skala terbatas. Namun, proyek terbaru diharap mampu memberi manfaat lebih luas dan tahan lama, karena direncanakan dengan kesiapan teknis yang lebih matang dan dukungan lebih besar dari berbagai pihak.
Dari sisi pelaksana, pihak dinas menyatakan bahwa pembangunan kini resmi memasuki tahap pekerjaan. Aan Gunawan, Pengelola Perencanaan UPTD Pelabuhan Perikanan Pantai Cikidang/Cilautureun, mengatakan semua persiapan teknis telah rampung, termasuk kesiapan alat berat, kontraktor, dan tim pengawas. "Proses pembangunan mendapat dukungan dari seluruh masyarakat, khususnya warga yang berada di sekitar lokasi proyek," ujarnya, menekankan pentingnya dukungan lokal.
Target penyelesaian proyek ditetapkan dalam jangka waktu 150 hari kalender. Selama periode itu, Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Jawa Barat akan melakukan pengawasan ketat agar pekerjaan berjalan sesuai rencana dan memenuhi spesifikasi teknis. Harapannya, kualitas pengerjaan yang baik akan memastikan kolam labuh dapat berfungsi maksimal dan tahan terhadap tantangan cuaca.
Bagi para nelayan, manfaat kolam labuh tidak hanya bersifat teknis, tetapi juga psikologis dan ekonomi. "Setelah kolam labuh ini selesai, perahu bisa tersimpan dengan aman. Kalau perahu aman, kami juga lebih nyaman dan semangat untuk melaut," kata Cacu. Rasa aman itu diharapkan mendorong produktivitas, mengurangi biaya perbaikan, dan pada akhirnya meningkatkan pendapatan keluarga nelayan di Jayanti.
Kolam labuh Jayanti menjadi simbol bagaimana infrastruktur sederhana tapi tepat guna mampu mengubah kehidupan komunitas pesisir. Dengan pelaksanaan yang baik dan dukungan masyarakat, proyek ini berpotensi menjadi penopang masa depan nelayan setempat—mengubah ketakutan terhadap badai menjadi keyakinan untuk bertahan dan berkembang. (tim dens).










