- DLH Cianjur Pimpin Operasi Bersih Sungai Cisarua: Gotong Royong Pulihkan Aliran, Cegah Banjir
- Diskumdagin Cianjur Tegaskan Integritas: Langkah Nyata Perbaiki Pelayanan Publik
- Siapkan Tenaga Kerja Kompeten di Pasar Global, 1.280 Lulusan SMA, SMK, MA Jabar Diberi Pelatihan Ker
- DPR Targetkan RUU Perampasan Aset Disahkan 15 Desember, Pimpinan Siap Mundur
- BAZNAS Cianjur Hadirkan Harapan Lewat Distribusi Air Bersih di Desa Sukamaju
- Buka Muktamar ke-35 NU, Presiden Prabowo: NU Institusi Bersejarah dan Berjasa Besar bagi Indonesia
- Bidang SMP Disdikpora Cianjur Gerak Cepat Antisipasi Kekurangan Guru Menjelang 2026–2027
- Disbudpar Cianjur: Strategi Promosi dan Revitalisasi untuk Menutup Kesenjangan Retribusi
- Gerakan Pramuka Diharapkan Mampu Ciptakan Indonesia Emas 2045
- Disdikpora Cianjur Setarakan Peluang Sekolah Swasta dalam SPMB 2026
Wali Keturunan Pajajaran

Keterangan Gambar : Lukisan imajiner Sunan Gunung Jati Cirebon.
Pinusnews.id - Seandainya hidup Syarif Hidayatullah semata mata untuk dunia, ia tidak akan menjadi ulama penyebar Islam. Tahta raja daerah di Mesir tinggal ia lanjutkan dari Syarif Abdullah ayahnya. Namun waliyulloh bernama kecil Raden Insan Kamil ini memilih berlayar jauh ke tanah Sunda ke Cirebon memenuhi keinginan Rara Santang ibunya melanjutkan penyebaran agama Islam Sang Walangsungsang sebagai kakak dari orang tuanya.
Walangsungsang dan Rara Santang adalah putra Prabu Siliwangi Raja Pajajaran dari prameswari Nay Subanglarang.
Setelah berlayar jauh penuh liku liku ditengah lautan, ia pun tiba di Cirebon diantar kapal Adipati Keling perampok yang kemudian takluk dan masuk Islam. Saat itu tatar Sunda masih kokoh dikuasai Prabu Siliwangi kakeknya. Bersama Sunan Ampel, Raden Insan Kamil juga merintis berdirinya Kesultanan Banten, dan untuk mempermudah dakwah, Sunan Gunung Jati menikahi Nyi Mas Kawungaten putra Sang Surosuwan Raja Banten. Sang Surosowan juga putra Prabu Siliwangi dari permaisuri Kentringmanik Mayang Sunda.
Baca Lainnya :
- Bey Machmudin: Jaga Kerukunan untuk Jawa Barat yang Damai dan Nyaman
- Vihara Tridharma Bagikan 700 Paket Sembako di Bojongherang Cianjur
- Geng Motor di Cianjur Diduga Membakar Tiga Motor
- Bupati Herman Menunaikan Salat Idul Fitri Bersama Masyarakat di Masjid Agung Cianjur
- Kado Ulang Tahun Kebun Raya Cibodas Ke 172, Bunga Bangkai Kembali Mekar
Kendati berbeda pilihan keyakinan dengan cucunya, Prabu Siliwangi memberikan nama Sri Manggana kepada Sunan Gunung Jati ketika dinobatkan menjadi Sultan Cirebon kedua. Tidak itu saja, satu kapal pasukan Pajajaran diberikan kepada Cirebon untuk mengabdi.
Sunan Gunung Jati Cirebon atau Syeh Syarif Hidayatullah, Raden Insan Kamil, bergelar Sultan Mahmud Sultan Cirebon menjadi bagian dari majelis Walisongo periode emas, yang turut mendirikan Kesultanan Demak dengan Raden Fatah sebagai Sultannya. Wali sejamannya adalah Sunan Ampel, Sunan Drajat, Sunan Bonang, Sunan Kudus, Sunan Giri, Sunan Kalijaga dan Sunan Muria. Ia wafat tahun 1568 M, kedudukannya di majelis Walisongo digantikan Sultan Hasanuddin Banten / Pangeran Sabangkingking putranya.
Salah satu peninggalan Sunan Gunung Jati Cirebon adalah pesantren Amparan Jati. Di pesantren ini pernah "mondok moek" Rd. Aria Wangsagoparana anak Raja Talaga yang setelah masantren ditugaskan menyebar Islam sekitar Subang. Selain itu Rd. Jayasasana putra Aria Wangsagoparana juga santri pesantren Amparan Jati Cirebon. Oleh Pangeran Karim Sultan Cirebon ia kemudian ditugaskan menjaga tapal batas Kesultanan Cirebon di Cianjur. Jayasasana kelak dikenal dengan gelar Rd. Aria Wiratanu I Bupati Cianjur (1677-1691) terkenal dengan sebutan Dalem Cikundul. (Luki Muharam R).











