- DPPKBP3A Cianjur Hadir di Sekolah, Bangun Generasi Sadar Kependudukan Sejak Dini
- Rekonsiliasi Pajak Daerah: Upaya untuk Menjaga Kepercayaan Publik di Cianjur
- Diskumdagin Cianjur Perkuat UMKM: Dari Legalitas hingga Pasar Digital
- DPMPTSP Cianjur Dorong Investasi Kesehatan demi Pertumbuhan Ekomomi Daerah
- TP PKK Cianjur Perkuat Pembinaan Kecamatan untuk Keluarga Berdaya dan Sejahtera
- Kabid SMP Disdikpora Cianjur Apresiasi Edukasi Hukum Pelajar Lewat Jaksa Masuk Sekolah
- Tugu Kujang Cianjur: Ketika Pusaka Sunda Tertidur di Tengah Jalan
- DPPKBP3A Cianjur Perkuat Kolaborasi untuk Generasi Bebas Stunting
- BAZNAS Cianjur Hadir di Rakornas 2026, Perkuat Zakat yang Produktif dan Berdampak
- Dinas PUTR Cianjur: Integritas Menjadi Kunci Pelayanan yang Bersih dan Terpercaya
KDM Sampaikan Duka Meninggalnya Dokter Asal Cianjur, Imbau Waspadai Penularan Campak

Keterangan Gambar : Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi.
Pinusnews.id - Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi menyampaikan rasa duka mendalam atas wafatnya dokter muda karena tertular penyakit campak saat bertugas di Cianjur.
"Saya sampaikan duka mendalam, itu pengabdian tertinggi dari seorang dokter, meninggal di tempat ketika sedang bertugas," ujarnya di Gedung Sate, Senin (30/3/2026).
Atas kasus tersebut, ia meminta agar masyarakat semakin waspada akan bahaya campak. Pihak terkait juga harus segera melakukan penanganan KLB campak.
Baca Lainnya :
- Aji Prasetio Korban Tenggelam di Kali Cilaku Ditemukan Sudah Meninggal
- Rapat Forkopimda dan Evaluasi Penanganan Covid-19 di Cianjur
- 97 SD dan 54 SMP di Cianjur Dapat Bantuan 55 Miliar
- Dinkes Cianjur Gelar Simulasi Vaksin Covid-19
- Soal Data KPM, Komisi D Siap Panggil TKSK dan Camat Warungkondang
"Penyakitnya harus segera ditangani dan diawaspadai, apalagi bupatinya seorang dokter," tambahnya.
Seorang dokter internship di salah satu RS di Cianjur, Jawa Barat, berinisial AMW (26) meninggal dunia dengan status suspek campak pada Kamis (26/3/2026).
Kementerian Kesehatan (Kemenkes) sudah mengeluarkan Surat Edaran Nomor HK.02.02/C/1602/2026 untuk rumah sakit agar waspada penyakit campak, khususnya bagi tenaga medis dan tenaga kesehatan.
Kemenkes mencatat hingga pekan ke-11 2026, tercatat 58 KLB campak di 39 kabupaten/kota. Pada awal tahun, kasus sempat alami lonjakan hingga 2.740 kasus, namun terjadi tren penurunan menjadi 177 kasus.
Kemenkes merespons kondisi tersebut dengan melakukan Outbreak Response Immunization (ORI) serta Catch-Up Campaign (CUC) Campak di 102 kabupaten/kota dengan sasaran anak usia 9 hingga 59 bulan. ORI merupakan imunisasi massal darurat untuk menghentikan penyebaran wabah. Sementara, CUC adalah imunisasi yang bertujuan untuk melengkapi status imunisasi yang belum lengkap.
Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Barat R. VIni Adiani Dewi mengatakan, sudah melakukan koordinasi dengan Kadinkes kabupaten/ kota di Jawa Barat, khususunya di wilayah dengan kejadian campak cukup banyak.
"Kemarin sudah rapat dengan semua Kepala Dinas Kesehatan, saya menyampaikan bahwa harus cepat dilakukan pemetaan, jadi ketika kasusnya meningkat, harus langsung dilakukan CUC bagi orang-orang yang belum diimunisasi campak. Tapi kalau kasusnya banyak itu dilakukan namanya ORI," jelasnya ditemui di Gedung Sate.
Vini menyebutkan kegiatan itu kini sedang berlangsung di seluruh kecamatan di Kabupaten Garut dan Tasikmalaya karena adanya peningkatan kasus campak. Sementara wilayah lainnya dilalukan CUC dan ORI berdasarkan temuan kasus per kecamatan, seperti di Cianjur. Kegiatan CUC dan ORI juga segera menyasar 10 kabupaten dan kota lainnya di Jabar secara menyeluruh.
Kegiatan imunisasi campak masal secara nasional terakhir dilakukan pada 2022. Selanjutnya, Pemprov Jabar terus melakukan vaksinasi rutin setiap tahun dengan menyasar balita hingga anak dibawah usai 14 tahun.
"Yang belum akan kita kejar imunisasinya karena sekitar 102.000 anak, data hinggga 2025, yang belum diimunisasi secara lengkap. Untuk orang dewasa diharapkan secara mandiri," tambahnya.
Vini berharap masyarakat tidak anti terhadap imunisasi dan vaksinasi campak agar KLB campak tidak lagi terjadi kemudian hari. Menurut ia, wilayah Garut dan Tasikmalaya mengalami kasus campak cukup banyak karena tingkat vaksinasinya yang masih rendah. (tim dens).











