- DPRD Cianjur Pimpin Refleksi dan Akselerasi Pembangunan pada Hari Jadi ke-349
- Bupati Cianjur Sambut Korban TPPO, Ingatkan Warga Urus TKI Secara Legal
- Cianjur Masih di Bawah: Tantangan IPM dan Upaya Perbaikan Bersama
- Peringati Milangkala Ke-349 Kabupaten Cianjur, KDM akan Tingkatkan Kualitas Pendidikan
- Imbauan Satpolairud Cianjur: Nelayan Diminta Utamakan Keselamatan saat Gelombang Tinggi
- Memperkuat Kebersamaan dan Kesejahteraan: BAZNAS Cianjur Berperan Aktif di Hari Jadi ke-349
- Rahayat Raksa Raharja: Semangat Gotong Royong Warnai Hari Jadi Cianjur ke-349
- Hadiah Hari Jadi Cianjur ke-349: Jalan Baru Cikadu dari Pemerintah Provinsi Jadi Wujud Perhatian KDM
- PUTR Cianjur: Bersama Membangun Cianjur Era Baru di Milangkala ke-349
- BAZNAS Cianjur Tetap Hadir untuk Umat: Fokus Layanan Kesehatan dan Bantuan Perjalanan Saat Masa Tran
Jenazah Musso, Pemimpin Pemberontakan PKI Madiun, di RS Ponorogo (31 Oktober 1948)

Keterangan Gambar : Mayat Musso setelah tertembak pasukan TNI.
pinusnews.id Cianjur -Setelah pemberontakan di Madiun gagal, Musso bersama Amir Sjarifuddin dan pentolan PKI lain melarikan diri ke Ponorogo. Musso berselisih dengan Amir dan memisahkan diri ke arah selatan dengan hanya dikawal dua orang, sementara Amir melanjutkan pelariannya ke Pacitan.
Pada tanggal 31 Oktober 1948, Musso dihentikan oleh dua orang keamanan desa ketika berjalan kaki di Desa Balong. Pihak keamanan desa curiga dengan penampilan Musso yang bersih. Musso melawan ketika dimintai surat-surat dan menembak petugas yang memeriksanya, lalu kabur setelah merampas sebuah sepeda.
Baca Lainnya :
- Babinsa Wawan Lakukan Pendampingan Penandaan dan Pendataan Hewan Ternak
- Hayam Wuruk Raja Majapahit Berkuasa di Nusantara
- Pasar Rakyat Kadupandak Dukung Kelancaran Proses Perekonomian
- Pahlawan Prawatasari yang Asing di Tanah Kelahirannya Cianjur
- Serka Dedi Rahmat Bantu Warga Pengecoran Jalan Desa
Musso kemudian merampas sebuah delman dan bersama pengawalnya, mereka kabur sementara tentara mengejarnya. Dalam kejar-kejaran terjadi saling tembak hingga kuda delman tertembak. Musso kemudian memberhentikan sebuah mobil dengan menodongkan pistol. Kali ini Musso bernasib sial, mobil yang ia rampas tidak bisa hidup dan ia berlari ke arah desa.
Ia masuk ke sebuah rumah dan bersembunyi di dalam kamar mandi, sementara pasukan TNI yang dipimpin Kapten Sumadi telah mengepung. Pengepungan tersebut tidak bermaksud menembak mati Musso, melainkan menangkapnya hidup-hidup.
Lalu, Musso diminta untuk menyerah, tapi ia tetap bersikukuh melawan. Tentara pun memberondong kamar mandi dan Musso tewas bersimbah darah. Mayatnya sempat dibawa ke RS Ponorogo dan dipertontonkan sebelum kemudian dibakar. (Arimbi Pasir-Sejarah dan Peristiwa).











