- Tugu Kujang Cianjur: Ketika Pusaka Sunda Tertidur di Tengah Jalan
- DPPKBP3A Cianjur Perkuat Kolaborasi untuk Generasi Bebas Stunting
- BAZNAS Cianjur Hadir di Rakornas 2026, Perkuat Zakat yang Produktif dan Berdampak
- Dinas PUTR Cianjur: Integritas Menjadi Kunci Pelayanan yang Bersih dan Terpercaya
- Disdikpora Cianjur Percepat Pemenuhan SLF Sekolah demi Izin Operasional
- Dari Keterampilan Menuju Kemandirian: DPW PUTR Cianjur Hadir untuk Perempuan dan Keluarga
- BAZNAS Cianjur Doakan dan Ajak Masyarakat Peduli Korban Banjir Padang
- DPRD Cianjur Percepat Penyempurnaan Perubahan APBD 2026 demi Layanan Publik yang Lebih Baik
- Kabid SMP Ipan Sopandi: Disdikpora Cianjur Wajibkan Bahasa Sunda di Sekolah
- BAZNAS Cianjur Perkuat Kolaborasi dengan DPRD demi Kesejahteraan Warga
Jenazah Musso, Pemimpin Pemberontakan PKI Madiun, di RS Ponorogo (31 Oktober 1948)

Keterangan Gambar : Mayat Musso setelah tertembak pasukan TNI.
pinusnews.id Cianjur -Setelah pemberontakan di Madiun gagal, Musso bersama Amir Sjarifuddin dan pentolan PKI lain melarikan diri ke Ponorogo. Musso berselisih dengan Amir dan memisahkan diri ke arah selatan dengan hanya dikawal dua orang, sementara Amir melanjutkan pelariannya ke Pacitan.
Pada tanggal 31 Oktober 1948, Musso dihentikan oleh dua orang keamanan desa ketika berjalan kaki di Desa Balong. Pihak keamanan desa curiga dengan penampilan Musso yang bersih. Musso melawan ketika dimintai surat-surat dan menembak petugas yang memeriksanya, lalu kabur setelah merampas sebuah sepeda.
Baca Lainnya :
- Babinsa Wawan Lakukan Pendampingan Penandaan dan Pendataan Hewan Ternak
- Hayam Wuruk Raja Majapahit Berkuasa di Nusantara
- Pasar Rakyat Kadupandak Dukung Kelancaran Proses Perekonomian
- Pahlawan Prawatasari yang Asing di Tanah Kelahirannya Cianjur
- Serka Dedi Rahmat Bantu Warga Pengecoran Jalan Desa
Musso kemudian merampas sebuah delman dan bersama pengawalnya, mereka kabur sementara tentara mengejarnya. Dalam kejar-kejaran terjadi saling tembak hingga kuda delman tertembak. Musso kemudian memberhentikan sebuah mobil dengan menodongkan pistol. Kali ini Musso bernasib sial, mobil yang ia rampas tidak bisa hidup dan ia berlari ke arah desa.
Ia masuk ke sebuah rumah dan bersembunyi di dalam kamar mandi, sementara pasukan TNI yang dipimpin Kapten Sumadi telah mengepung. Pengepungan tersebut tidak bermaksud menembak mati Musso, melainkan menangkapnya hidup-hidup.
Lalu, Musso diminta untuk menyerah, tapi ia tetap bersikukuh melawan. Tentara pun memberondong kamar mandi dan Musso tewas bersimbah darah. Mayatnya sempat dibawa ke RS Ponorogo dan dipertontonkan sebelum kemudian dibakar. (Arimbi Pasir-Sejarah dan Peristiwa).











