- 282 Ruang Kelas yang Hilang: Potret Kesenjangan Infrastruktur SMP di Cianjur
- Presiden Prabowo: Tertibkan Kawasan Hutan SecaraTegas, Transparan, dan Akuntabel
- Sanroh BAZNAS Cianjur: Menyegarkan Hati, Mengokohkan Amanah
- Sekolah di Ujung Kampung: Janji Bupati Cianjur untuk Pendidikan yang Layak
- SADA JABAR, Aplikasi Baru Permudah Program Pemprov Jabar Lebih Tepat Sasaran
- 3.500 Beasiswa untuk Masa Depan: Janji Nyata Disdikpora Cianjur demi Pendidikan yang Merata
- Rembug Warga di Cidamar: Bupati Cianjur Ajak Masyarakat Jaga Alam, Dukung Pembangunan
- Langkah Cepat Disdikpora Cianjur demi Masa Depan Siswa SMP Swasta SCBC Naringgul
- Estafet Kepemimpinan, Diskominfo Cianjur Perkuat Sinergi dan Kebersamaan
- BKAD Cianjur Perkuat Pelayanan Publik melalui Budaya Kerja BerAKHLAK
Gubuk Plastik di Tengah Kemajuan Cianjur yang Pesat: Kisah Harapan Asep dan Hindun yang Terabaikan

Keterangan Gambar : Sebuah cermin kegagalan sistem sosial di tengah kemajuan Cianjur yang pesat, terdapat pasangan suami istri, Asep Suhendi dan Hindun, bertahan hidup di gubuk reyot, yang perlu bantuan pemerintah secepatnya.
Pinusnews.id - Di sudut Kampung Logok Loa, Desa Sukajadi, Kecamatan Cibinong, Kabupaten Cianjur, kemiskinan masih menggenggam erat kehidupan warga. Hamparan perkampungan sederhana itu menyembunyikan sebuah gubuk kecil yang nyaris tak layak disebut rumah.
Dindingnya dari spanduk bekas dan lembaran plastik rapuh, tempat Asep Suhendi (68) dan istrinya, Hindun (56), bertahan hari demi hari. Bagi pasangan paruh baya ini, gubuk itu bukan hanya tempat berteduh, melainkan satu-satunya benteng dari panas terik dan hujan deras—meski perlindungannya rapuh.
Bayangkan angin kencang menerpa, dinding plastik bergoyang seperti daun kering siap putus. Saat hujan tiba, air merembes dari celah atap dan dinding, membasahi lantai tanah yang lembap.
Baca Lainnya :
- Dinkes Cianjur Gelar Simulasi Vaksin Covid-19
- Soal Data KPM, Komisi D Siap Panggil TKSK dan Camat Warungkondang
- Kapolsek Sukaluyu : Pencarian Aji Korban Tenggelam Akan Terjunkan Tim SAR Bandung
- Belum Ditemukan, Aji Prasetyo Tenggelam di Leuwi Lengsir, Sukaluyu
- Politisi Partai Nasdem, Rela Sisihkan Gaji Untuk Jompo dan Anak Yatim
“Kalau hujan pasti bocor. Air masuk ke dalam,” ujar Asep lirih, Kamis (12/3/2026). Di dalam ruang sempit itu, tak ada perabot berarti, hanya dingin malam yang menembus plastik tipis, menyiksa tubuh mereka yang sudah renta. Meski begitu, Asep dan Hindun bertahan dengan kesabaran luar biasa, menyimpan harapan tipis akan perubahan.
“Hingga kini kami belum dapat bantuan. Kami harap pemerintah dapat memperhatikan kami,” kata Asep dengan suara penuh doa. Kondisi rumahnya yang memprihatinkan—hanya spanduk dan plastik—menuntut perhatian serius.
“Kami sangat berharap ada perhatian dari pemerintah. Rumah kami hanya dari spanduk dan plastik,” tuturnya lagi, menggambarkan keputusasaan yang tak kunjung usai. Kisah mereka bukan sekadar cerita pribadi, melainkan cermin kegagalan sistem sosial di tengah kemajuan Cianjur yang kian pesat.
Pihak desa pun tak tinggal diam. Penjabat Sementara Pemerintah Desa Sukajadi, Eman, melalui Sekretaris Desa Bahrul, mengungkapkan upaya mereka. “Kami sudah mengajukan beberapa program bantuan, tetapi sampai saat ini memang belum ada realisasi,” kata Bahrul.
Program seperti Keluarga Harapan (PKH), Bantuan Stimulan Perumahan Swadaya (BSPS), dan bantuan Baznas telah diajukan, tapi terhambat birokrasi atau keterbatasan anggaran. Ini menunjukkan celah dalam jaring pengaman sosial, usaha lokal ada, tapi realisasi mandek.
Kisah Asep dan Hindun menjadi pengingat pahit bahwa di balik pembangunan infrastruktur dan ekonomi Cianjur, masih ada warga yang terpinggirkan dalam kemiskinan ekstrem. Mereka tak hanya butuh bantuan bertahan, tapi tempat tinggal layak yang menghormati martabat manusia.
Pemerintah Kabupaten Cianjur harus segera bertindak tegas—verifikasi pengajuan desa, alokasikan dana darurat untuk renovasi rumah, dan percepat program BSPS serta PKH. Jangan biarkan harapan warga seperti Asep pudar sia-sia, intervensi cepat kini adalah kewajiban moral dan hukum, agar Cianjur tak lagi menyimpan luka kemiskinan tersembunyi. (tim dens).











