- 3.500 Beasiswa untuk Masa Depan: Janji Nyata Disdikpora Cianjur demi Pendidikan yang Merata
- Rembug Warga di Cidamar: Bupati Cianjur Ajak Masyarakat Jaga Alam, Dukung Pembangunan
- Langkah Cepat Disdikpora Cianjur demi Masa Depan Siswa SMP Swasta SCBC Naringgul
- Estafet Kepemimpinan, Diskominfo Cianjur Perkuat Sinergi dan Kebersamaan
- BKAD Cianjur Perkuat Pelayanan Publik melalui Budaya Kerja BerAKHLAK
- KDM: Cegah Kebakaran Lahan dan Hutan, Gunung Ditutup Sementara untuk Pendakian
- Kekurangan Guru Cianjur: Saat Pendidikan Harus Tetap Berjalan di Tengah Keterbatasan
- DPMD Cianjur Soal Pilkades Digital: Dorong Demokrasi Desa yang Mudah dan Transparan
- DPRD Cianjur Perkuat Agenda Kerja untuk Dorong Kemajuan Masyarakat
- Bapenda Cianjur dan Strategi Pepeling: Permudah Pembayaran, Genjot Pendapatan
Desa Sukaraharja di Kabupaten Cianjur Satu-satunya Desa Tertinggal di Jawa.

Keterangan Gambar : Salah satu keberadaan infrastruktur yang rusak berat mengakibatkan transfortasi ekonomi tersendat di wilayah Desa Sukaraharja, Kecamatan Kadupandak, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat.
Pinusnews.id - Di lereng pegunungan Cianjur, Desa Sukaraharja, Kecamatan Kadupandak, Kabupaten Cianjur, kini menyandang predikat yang menyedihkan sebagai desa tertinggal. Berdasarkan hasil penilaian Indeks Desa (ID) terbaru, wilayah ini menjadi satu-satunya di Pulau Jawa yang masuk kategori tersebut. Status ini bukan sekadar label administratif, melainkan cerminan nyata dari perjuangan warga menghadapi alam yang tak kenal ampun dan keterbatasan pembangunan.
Kepala Desa Sukaraharja, Budi Rahman, mengungkapkan bahwa status ini lahir dari penilaian jujur atas kondisi riil di lapangan. Infrastruktur dan fasilitas umum menjadi titik lemah utama, banyak yang rusak parah akibat bencana alam. Longsor dan pergerakan tanah kerap menggerogoti akses jalan, sementara fasilitas pelayanan masyarakat seperti puskesmas pembantu, sekolah, hingga sarana MCK belum memadai untuk memenuhi kebutuhan dasar ribuan jiwa.
“Kami mengisi penilaian sesuai fakta yang ada di lapangan, mulai dari kondisi jalan hingga fasilitas umum yang rusak,” kata Budi kepada wartawan, Selasa 12 Mei 2026. Kata-katanya menggambarkan kenyataan pahit dimana desa yang terisolasi bukan karena jauh dari pusat pemerintahan, tapi karena medan yang sulit ditaklukkan.
Baca Lainnya :
- Pesantren Roboh, Belasan Santri Tertimpa Bangunan
- Mobil Angkutan Umum Tertimpa Pohon, 2 Sopir Dilarikan ke Rumah SakitÂ
- Babak Baru, Usai Pencuri Motor Babak Belur Dihajar Warga, satu Pelaku Kabur
- Bupati Herman Suherman : Cianjur Harus Steril dari Covid-19
- Dipancing dengan Perempuan, Tertangkaplah Komplotan Pencuri Domba
Dampaknya langsung menyentuh kehidupan sehari-hari warga. Keterbatasan akses jalan menghambat distribusi barang pokok, mendorong harga melonjak tinggi. Salah satu contoh mencolok adalah tabung gas LPG 3 kilogram yang bisa mencapai Rp40 ribu di tangan masyarakat, jauh di atas harga standar. Biaya operasional pengiriman yang mahal menjadi biang kerok, memperburuk beban ekonomi keluarga miskin.
“Harga gas jadi mahal karena akses jalannya sulit dilalui kendaraan,” ujar Budi lagi, menekankan bagaimana infrastruktur buruk memperlemah daya saing desa. Bukan hanya gas, bahan makanan, obat-obatan, hingga bantuan sosial pun terhambat, menciptakan lingkaran kemiskinan yang sulit diputus.
Budi Rahman tak menyerah begitu saja. Ia berharap perhatian pemerintah pusat dan daerah segera datang untuk membenahi infrastruktur. Dana desa saja tak cukup menangani longsor masif dan perbaikan jalan yang masif. “Kami ingin ada dukungan untuk perbaikan sarana dan prasarana supaya minimal status desa bisa naik menjadi berkembang,” katanya penuh harap.
Pemerintah daerah tak tinggal diam. Kepala Bidang Bina Administrasi Pemerintah Desa DPMD Kabupaten Cianjur, Dendy Reynaldi, menjanjikan dorongan pembangunan intensif. Targetnya ambisius: angkat status Sukaraharja menjadi desa berkembang tahun ini, sebelum menuju kategori maju. “Kami fokus mendorong perbaikan sarana penunjang masyarakat agar status desa bisa meningkat secara bertahap,” tegasnya.
Cerita Sukaraharja menjadi pengingat bahwa pembangunan merata di Jawa masih tantangan besar. Dengan kolaborasi pemerintah, swasta, dan masyarakat, desa ini bisa bangkit—bukan hanya naik indeks, tapi juga kualitas hidup warganya. (dens).











