Menunggu Rumah Aman: Warga Waringinsari Bertahan di Antara Reruntuhan dan Janji Relokasi

30 Jul 2026, 09:15:16 WIB Cianjur
Menunggu Rumah Aman: Warga Waringinsari Bertahan di Antara Reruntuhan dan Janji Relokasi

Keterangan Gambar : Salah satu rumah yang terkena bencana pergeseran tanah di Desa Waringinsari, Takokak, Cianjur.


Pinusnews.id - Saat ini di Desa Waringinsari, Kecamatan Takokak, Kabupaten Cianjur, kehidupan sehari-hari masih dipenuhi kecemasan meski bencana pergeseran tanah terjadi beberapa tahun lalu. Rumah-rumah yang retak dan fondasi yang miring menjadi pengingat setiap kali hujan datang. 

Anak-anak bermain di halaman yang dulu aman kini dengan hati-hati menghindari retakan tanah. Ratusan keluarga masih menggenggam harapan sederhana yakni tempat tinggal yang aman untuk tidur malam tanpa takut longsor.

Salah satu suara yang terus memperjuangkan harapan itu adalah Kepala Desa, Nadir Muharam Abdurahman. Ia tak henti menanyakan kabar relokasi kepada BPBD Kabupaten Cianjur untuk memberi jawaban pada warganya.

Baca Lainnya :

"Kami sudah berkali-kali menanyakan perkembangan proses relokasi kepada BPBD Kabupaten Cianjur," kata Nadir, suaranya mengandung keletihan namun tetap tegas. Baginya, pertanyaan itu bukan birokrasi belaka, melainkan usaha menenangkan keluarga yang tiap hari bertanya kapan bisa pindah.

Angka-angka yang tercatat menunjukkan skala kerusakan, ada 132 rumah rusak berat, 40 rusak sedang, dan 100 rusak ringan. Di balik statistik itu tersimpan cerita rumah yang tak lagi layak ditempati, dapur yang harus dipindah, dan malam-malam panjang keluarga yang berjaga menunggu tanah stabil. 

"Kami tidur sambil was-was kalau hujan deras," kata seorang ibu warga yang masih bertahan di rumah rusak, kata-kata yang mengungkapkan kelelahan fisik dan emosional.

Pemerintah Cianjur menawarkan dua pilihan relokasi dimana 114 kepala keluarga masuk program relokasi terpadu, sedangkan 18 keluarga memilih relokasi mandiri. Bagi sebagian warga, relokasi terpadu berarti harapan akan hunian baru lengkap dengan fasilitas.

Bagi yang memilih mandiri, itu soal kontrol dan kemandirian dalam membangun kembali kehidupan. Namun semua sepakat pada satu hal, mereka butuh kepastian waktu dan dukungan teknis agar proses pindah tidak menambah beban.

Secercah kabar administrasi muncul ketika Kepala Desa menyebut usulan relokasi sudah berada di BNPB setelah ditandatangani Gubernur Jawa Barat. 

"Prosesnya sekarang sudah di BNPB. Sebelumnya juga sudah ditandatangani oleh Gubernur Jawa Barat," ujar Nadir. Meski demikian, tanda tangan di dokumen belum tentu sama dengan suara bor traktor dan semen yang mengubur kenangan lama. Warga masih menunggu langkah nyata, bukan janji di atas kertas.

Sementara proses itu berjalan di meja-meja pemerintahan, kehidupan nyata terus berlalu di Waringinsari, dan beberapa keluarga masih tidur di rumah yang retak, sebagian lainnya menumpang di rumah saudara, menggeser barang-barang seadanya dari satu sudut ke sudut lain. 

Ketidakpastian ini memengaruhi sekolah anak-anak, penghasilan keluarga, dan kesehatan mental mereka. Seorang bapak setempat, yang tak ingin disebut namanya, mengaku sulit merencanakan masa depan ketika rumah pun belum pasti.

Harapan terakhir warga kini sederhana namun mendesak, relokasi segera terealisasi agar mereka memiliki rumah layak dan terlindungi dari ancaman bencana di masa depan. 

"Mudah-mudahan bisa segera terealisasi, jangan sampai terkatung-katung karena masyarakat menunggu kepastian," pinta Nadir dengan nada harap.

Di balik ungkapan Nadir itu tersimpan doa ribuan langkah agar suatu hari warga Waringinsari bisa menutup pintu rumah baru tanpa rasa takut dan memulai babak baru kehidupan. (dens).




Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

View all comments

Write a comment