- Bapenda Cianjur Perkuat Evaluasi PAD demi Pembangunan yang Lebih Maju
- Bupati dan BAZNAS Cianjur Hadir Cepat, Salurkan Bantuan untuk Penyintas Kebakaran di Cilaku
- Disdikpora Cianjur Membangun SD Negeri Hegarsari lewat Revitalisasi Satuan Pendidikan 2026
- Bapperida Cianjur Perkuat Bukti Dukung Inovasi demi Reformasi Birokrasi yang Lebih Baik
- Provinsi Jabar Bentuk Tim Pemburu Anak Tidak Sekolah Sampai ke Desa
- Kotak Amal BAZNAS Cianjur: Sedekah Kecil, Manfaat Besar untuk Sesama
- Dinas Pertanian Cianjur Perkuat Hilirisasi Produk Unggulan Daerah Bersama BRIN
- Pemerintah Cianjur Diperintahkan Hadir Lebih Dekat untuk Warga Terdampak Bencana
- Bersinergi untuk Membangun Cianjur: BAZNAS dan Pemkab Perkuat Pelayanan Masyarakat
- Pemkab Cianjur dan Kejaksaan Perkuat Sinergi Hukum demi Pembangunan yang Bersih
I\'tikaf Amalan Sunnah yang Terlupakan dengan Keutamaan Besar

Keterangan Gambar : Torik Imanurdin.
Torik Imanurdin,S.Pd.,M.Pd. Alumni SSG III Darut Tauhid Bdg
I’tikaf adalah salah satu ibadah sunnah yang memiliki keutamaan besar, namun sayangnya kurang populer di kalangan umat Islam. Banyak Muslim yang belum terbiasa mengamalkannya, padahal Rasulullah ﷺ sendiri senantiasa melakukannya, terutama di sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan.
Keutamaan I’tikaf
Baca Lainnya :
- Razia ke Karaoke, Polres Cianjur Amankan Enam Orang Pemakai Narkoba
- Material Longsoran Dibersihkan, Jalur Naringgul Cianjur Bisa Dilintasi
- Polres Cianjur Razia Tempat Hiburan, Tamu dan Pemandu Lagu Kelabakan
- Satpol PP Cianjur Amankan Pengedar Miras dan Obat Faftar GÂ
- Tempat Limbah Mebel di Sukaluyu Musnah Terbakar
I’tikaf merupakan bentuk penghambaan kepada Allah dengan berdiam diri di masjid, menjauh dari kesibukan dunia, dan fokus dalam ibadah seperti shalat, membaca Al-Qur'an, serta berzikir. Amalan ini sangat dianjurkan karena dapat mendekatkan diri kepada Allah dan memperoleh keutamaan Lailatul Qadar, malam yang lebih baik dari seribu bulan.
Rasulullah ﷺ selalu melaksanakan i’tikaf, sebagaimana disebutkan dalam hadits dari Aisyah radhiyallahu 'anha:
كَانَ النَّبِيُّ ﷺ يَعْتَكِفُ فِي الْعَشْرِ الْأَوَاخِرِ مِنْ رَمَضَانَ، حَتَّى تَوَفَّاهُ اللَّهُ، ثُمَّ اعْتَكَفَ أَزْوَاجُهُ مِنْ بَعْدِهِ
"Nabi ﷺ biasa beri'tikaf pada sepuluh hari terakhir dari bulan Ramadhan hingga Allah mewafatkannya. Kemudian istri-istrinya beri'tikaf setelahnya." (HR. Bukhari no. 2026 dan Muslim no. 1172).
Dalam hadits lain, Rasulullah ﷺ bersabda:
مَنْ كَانَ اعْتَكَفَ مَعِي فَلْيَعْتَكِفِ الْعَشْرَ الأَوَاخِرَ
"Barang siapa yang ingin beri’tikaf bersamaku, maka hendaklah ia beri’tikaf pada sepuluh hari terakhir (Ramadhan)." (HR. Bukhari no. 2040).
Mengapa I’tikaf Kurang Diminati?
Ada beberapa alasan mengapa i’tikaf kurang populer di kalangan umat Islam:
1. Kesibukan Duniawi – Banyak Muslim lebih sibuk dengan pekerjaan dan rutinitas dunia sehingga sulit meluangkan waktu untuk beri’tikaf.
2. Kurangnya Pemahaman – Tidak sedikit orang yang menganggap i’tikaf sebagai ibadah berat atau hanya khusus bagi para ulama.
3. Minimnya Motivasi – Tidak banyak yang menyadari bahwa i’tikaf adalah kesempatan emas untuk memperoleh ampunan dan pahala besar.
Akhirulkalam
I’tikaf adalah amalan yang sangat dianjurkan, terutama pada sepuluh hari terakhir Ramadhan. Meskipun kurang populer, keutamaannya sangat besar, terutama dalam mendekatkan diri kepada Allah dan meraih keberkahan Lailatul Qadar. Oleh karena itu, sudah saatnya umat Islam kembali menghidupkan sunnah ini dan menjadikannya bagian dari ibadah di bulan Ramadhan.











