Hasbullah di SMKN I Cilaku, Belajar HAM agar Tak Terjerumus Tawuran: Dari Sekolah untuk Masa Depan

15 Agu 2026, 10:14:27 WIB Jawa Barat
Hasbullah di SMKN I Cilaku, Belajar HAM agar Tak Terjerumus Tawuran: Dari Sekolah untuk Masa Depan

Keterangan Gambar : Suasana di lingkungan SMKN I Cilaku, Cianjur, saat Kakanwil HAM Jabar, Hasbullah, memberikan wawasan pengetahuan HAM kepada ratusan pelajar, Jumat, 14 Agustus 2026.


Pinusnews.id - Kakanwil Hak Asasi Manusia (HAM) Jawa Barat, Hasbullah, berkunjung ke SMKN I Cilaku, Cianjur, pada Jumat, 14 Agustus 2026 untuk berbicara langsung dengan ratusan pelajar tentang pentingnya pemahaman HAM dalam kehidupan sehari-hari. Kunjungan itu dihadiri Kepala SMKN I Cilaku Kankan Salman Santosa, Kepala SMK Siliwangi Eti Rohaeti, staf bidang kesiswaan, para guru, dan ratusan siswa-siswi yang antusias mendengarkan. Suasana penuh perhatian terlihat ketika Hasbullah membuka diskusi dengan topik yang dekat dengan pengalaman remaja yaitu tawuran dan konsekuensinya.

Pesan utama yang disampaikan adalah bahwa tawuran bukan sekadar masalah fisik, melainkan pelanggaran hak asasi orang lain. "Khususnya hak atas rasa aman dan hak hidup yang sering terjadi akibat pelaku tidak menyadari nilai kemanusiaan tersebut," kata Hasbullah di hadapan para pelajar. Kalimat ini mengingatkan bahwa setiap tindakan kekerasan merampas hak dasar orang lain untuk hidup dan merasa aman.

Hasbullah menekankan bahwa pengetahuan HAM bisa mengubah cara pandang dari pola pikir kelompok yang egois menjadi sikap yang menghargai martabat sesama. Pelajar seringkali terjebak dalam logika geng atau mempertahankan ‘harga diri’ kelompok, tanpa menyadari efek buruknya. Menurutnya, pemahaman ini penting agar remaja bisa memilih dialog dan toleransi ketimbang kekerasan.

Baca Lainnya :

Selain soal perubahan sikap, pembicaraan itu juga menyinggung bagaimana HAM mengajarkan metode penyelesaian konflik yang damai. Hasbullah memberi contoh konkret seperti belajar berbicara, menengahi konflik, dan melibatkan guru atau konselor ketika masalah mulai memanas. Ia menyatakan bahwa “pendekatan edukatif lebih menyentuh nurani dibanding hukuman semata,” yang membuka peluang perubahan perilaku jangka panjang.

Di sisi lain, ia mengingatkan bahwa sekadar memberi efek jera berupa hukum atau skorsing sering tidak menyelesaikan akar masalah. "Siswa yang memahami konsekuensi hukum dan moral dari pelanggaran HAM cenderung memiliki rem internal yang lebih kuat," ujar Hasbullah. Pernyataan ini menekankan pentingnya pembelajaran nilai, bukan hanya sanksi, agar pelajar benar-benar berubah.

Hasbullah juga menguraikan langkah-langkah pencegahan yang lebih sistematis untuk menekan angka tawuran dan risiko kriminalitas. Ia menyoroti peran guru BK (Bimbingan Konseling) dalam mendeteksi masalah sejak dini dan memberi intervensi yang tepat. Dengan peran aktif sekolah, peluang pelajar terseret ke tindakan kriminal yang merusak masa depan bisa diperkecil.

Kepala SMKN I Cilaku, Kankan Salman Santosa, memberi apresiasi atas kunjungan dan materi dari Kakanwil HAM. Ia menyatakan bahwa pengetahuan HAM sangat relevan untuk membentuk karakter pelajar SMK yang juga sedang mempersiapkan diri memasuki dunia kerja. Kepala sekolah berharap program serupa berkelanjutan agar nilai-nilai HAM benar-benar mengakar di lingkungan sekolah.

Begitu pula Kepala SMK Siliwangi, Eti Rohaeti, menyampaikan dukungan dan rasa terima kasihnya kepada Hasbullah dan tim HAM Jabar. Ia menilai materi yang disampaikan bersifat aplikatif dan mendesak, terutama untuk mencegah pergaulan negatif dan konflik antar-kelompok di kalangan pelajar. Menurut Eti, edukasi seperti ini membantu guru dan orang tua dalam membimbing siswa.

Dialog dengan pelajar juga menyentuh isu-isu lain yang relevan dengan remaja, seperti kedisiplinan, pergaulan bebas, dan moralitas. Hasbullah menjelaskan bahwa memahami HAM turut membentuk etika sosial dan profesional yang dibutuhkan di masa depan. Dengan begitu, pengetahuan ini bukan hanya soal menghindari tawuran, tetapi juga mempersiapkan sikap dewasa yang dibutuhkan saat terjun ke dunia kerja.

Pertemuan itu meninggalkan pesan kuat yakni kemajuan zaman membawa tantangan baru, tetapi dengan pengetahuan dan kesadaran HAM, pelajar dapat menghadapi masa depan tanpa mengorbankan hak orang lain. Dukungan dari kepala sekolah seperti Kankan Salman Santosa dan Eti Rohaeti menunjukkan bahwa kolaborasi antara institusi pendidikan dan lembaga HAM penting untuk menumbuhkan generasi yang lebih bijak dan bertanggung jawab. (dens).




Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

View all comments

Write a comment