Disbudpar Cianjur: Strategi Promosi dan Revitalisasi untuk Menutup Kesenjangan Retribusi

27 Agu 2026, 08:24:03 WIB Cianjur
Disbudpar Cianjur: Strategi Promosi dan Revitalisasi untuk Menutup Kesenjangan Retribusi

Keterangan Gambar : Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kabupaten Cianjur, Jawa Barat, Yudha Azwar.


Pinusnews.id - Kabupaten Cianjur masih menghadapi tantangan dalam merealisasikan Pendapatan Asli Daerah (PAD) dari sektor retribusi objek wisata. Hingga saat ini realisasi baru mencapai sekitar 30 persen dari target murni Rp3 miliar, yakni sekitar Rp900 juta. Kondisi ini mendorong Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) untuk mengevaluasi langkah dan strategi agar sisa tahun anggaran bisa dimanfaatkan optimal.

Kepala Disbudpar Cianjur, Yudha Azwar, menjelaskan target Rp3 miliar itu berasal dari lima objek wisata yang dikelola pemerintah: Wisata Cibodas, Cikundul, Jangari, Pandanwangi, dan Gunung Padang. Selain tiket masuk, potensi retribusi juga datang dari kios-kios yang tersebar di kawasan Cikundul dan Cibodas. 

"Untuk target retribusi kita murni itu ada Rp3 miliar, terdiri dari lima objek wisata... Ditambah juga dengan beberapa retribusi kios yang ada di Cikundul dan Cibodas," kata Yudha.

Baca Lainnya :

Salah satu penyebab rendahnya capaian adalah keterlambatan pemungutan retribusi di kawasan Cibodas. Pengelolaan sempat berpindah dari pihak ketiga dan muncul rencana kerja sama dengan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), sehingga pemungutan baru berjalan efektif sejak 14 Mei 2026. Menurut Yudha, hal ini membuat target untuk Cibodas tidak realistis jika dibiarkan tetap seperti semula.

Menanggapi situasi itu, Disbudpar Cianjur berinisiatif menyesuaikan target retribusi Cibodas dalam perubahan anggaran. Target yang semula dipatok sekitar Rp2,4 miliar kemungkinan akan dikoreksi menjadi sekitar Rp1 miliar untuk tahun ini.

"Untuk Cibodas mungkin di perubahan ini kita akan anggarkan penyesuaian, dikarenakan pungutannya baru dari tanggal 14 Mei," jelas Yudha, menegaskan langkah administratif sebagai respons terhadap realitas lapangan.

Di luar Cibodas, Yudha menyatakan proses pemungutan di objek wisata lain berjalan relatif lancar tanpa kendala berarti. Namun terdapat persoalan unik pada kawasan Gunung Padang: meskipun secara geografis berada di Cianjur, otoritas pengelolaan berada di kementerian sehingga posisi daerah hanya di “ring empat”. Hal ini membuat upaya pemungutan, termasuk retribusi kios, lebih sulit dijangkau oleh pemerintah kabupaten.

Untuk memperkecil selisih realisasi PAD, Disbudpar Cianjur sudah menjalankan sejumlah strategi seperti memaksimalkan promosi melalui media sosial dan melakukan pembenahan sarana-prasarana di destinasi wisata. Salah satu program yang sedang digenjot adalah revitalisasi Kampung Budaya Padi Pandanwangi, diharapkan mampu meningkatkan daya tarik wisatawan dan menambah pemasukan daerah.

"Upaya tentunya kita untuk mengejar target PAD di tahun ini, kita berupaya melaksanakan promosi baik melalui media sosial. Kita juga berupaya melaksanakan perbaikan di beberapa destinasi wisata," ujar Yudha.

Langkah-langkah yang diambil Disbudpar menunjukkan pendekatan proaktif dan realistis bertujuan menyesuaikan target ketika kondisi berubah, fasilitas untuk pengalaman pengunjung, serta memanfaatkan kanal digital untuk promosi. Pendekatan ini bukan hanya soal mengejar angka, tetapi juga membangun fondasi pariwisata yang lebih kuat dan berkelanjutan di Cianjur.

Yudha juga menegaskan bahwa Disbudpar Cianjur akan terus bekerja mengejar target sampai akhir tahun, sambil menunggu penyesuaian anggaran untuk Cibodas.

"Hingga akhir tahun, setelah penyesuaian Cibodas, insya Allah kami akan berupaya supaya target tercapai," pungkasnya. Dengan perbaikan manajemen dan fokus pada pengembangan destinasi, Disbudpar Cianjur berharap realisasi PAD membaik tanpa mengorbankan kualitas layanan wisata. (dens).




Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

View all comments

Write a comment