- Imbauan Satpolairud Cianjur: Nelayan Diminta Utamakan Keselamatan saat Gelombang Tinggi
- Memperkuat Kebersamaan dan Kesejahteraan: BAZNAS Cianjur Berperan Aktif di Hari Jadi ke-349
- Rahayat Raksa Raharja: Semangat Gotong Royong Warnai Hari Jadi Cianjur ke-349
- Hadiah Hari Jadi Cianjur ke-349: Jalan Baru Cikadu dari Pemerintah Provinsi Jadi Wujud Perhatian KDM
- PUTR Cianjur: Bersama Membangun Cianjur Era Baru di Milangkala ke-349
- BAZNAS Cianjur Tetap Hadir untuk Umat: Fokus Layanan Kesehatan dan Bantuan Perjalanan Saat Masa Tran
- Warga Cianjur Gugat Keterbukaan Putusan Etik DPRD soal Dugaan Penyelewengan Dana Reses
- BAZNAS Cianjur Renovasi Rumah, Hadirkan Harapan Baru untuk Keluarga Ibu Siti
- Optimalkan BOSP Kinerja 2026: 124 SD di Cianjur Diberi Sosialisasi untuk Tingkatkan Mutu Pendidikan
- DPRD Cianjur dan Kejaksaan Tandatangani Kesepakatan: Perkuat Kepastian Hukum Tata Kelola Daerah
Cukupkah Mengasuh Anak Hanya dengan Memanjakannya?
Oleh: Hanifah Fazrin, Mahasiswa Semester 7 Prodi Hukum Keluarga Islam STAI Al-Azhary Cianjur

Keterangan Gambar : Ilustrasi (Sumber: Liputan6.com)
Pinusnews.id- Anak itu representasi dari orang tua, lingkungan dan pola asuh yang diterapkan, ada anak yang hidup di lingkungan tidak baik tapi orang tuanya baik, namun ada juga anak yang hidup di lingkungan baik tetapi orang tuanya tidak baik, hal-hal seperti ini termasuk yang memberikan pengaruh buruk (nakal) karakter anak.
Sebenarnya apa yang harus anak dapatkan? Sebagai seorang yang pernah menjadi anak, kasih sayang orang tua, pendidikan, pembelajaran mandiri, dan pengertian tentang agama-lah yang menjadi kebutuhan dasar seorang anak. Kasih sayang orang tua sangat berpengaruh pada perkembangan anak menjadikan baik dalam berinteraksi dan menjalin hubungan positif dengan orang lain, karena anak itu baru lahir, baru sebentar menjalani hidupnya maka banyak hal yang belum diketahui oleh anak. Tugas orang tua disini memberikan banyak pengetahuan pada anak, orang tua harus memberikan pendidikan yang layak agar anak bisa terarah dengan baik. Anak juga harus diajari mandiri, orang tua harus percaya pada anaknya agar anak dapat percaya diri dalam menjalani kehidupannya sendiri dan tidak bergantung pada orang lain agar tidak kecewa, dan diajari bahwa manusia tidak selalu dapat diandalkan, lalu terakhir anak harus diberikan pendidikan keagamaan agar anak mempuanyai batasan dan bisa membatasi dirinya dari pada hal hal buruk.
Sering saya temukan orang tua yang cuek kepada anaknya sehingga membentuk karakter anak yang tidak mengerti dirinya sendiri, anak tidak mengerti respon pada apa yang terjadi, anak menjadi tidak percaya diri, dan tidak mengerti empati, karna ya keluarga yang dingin akan menjadikan anak dingin, lalu anak itu terlepas dari control, anak itu bebas yang dalam artian tidak tertahankan melakukan banyak hal tanpa tahu baik dan buruknya.
Baca Lainnya :
- Bupati Cianjur Bersama Kadis PUTR Tinjau Pembangunan Pedestrian Jalur Jalan Siliwangi
- Bey Machmudin Apresiasi Jambore Pelajar Teladan Bangsa, Rajin Belajar, Berbakti kepada Orang Tua
- Menteri Sosial Beri Bantuan bagi Anak-anak dengan Penyakit Berat
- Tak Ada Pungutan dalam Proses Rekrutmen Tenaga Kesehatan Haji 2024
- Serahkan Sertifikat Wakaf, Presiden Jokowi: Agar Tidak Terjadi Sengketa Lahan
Namun tidak jarang juga banyak orang tua yang bentuk kasih sayangnya itu memanjakan anaknya, membebaskan dan memberikan semua yang diinginkan oleh anaknya hingga membuat anak itu terbiasa apa-apa diberikan hingga anaknya tumbuh dewasa dengan jiwa yang selalu merasa semuanya itu mudah didapatkan. dan ketika meminta sesuatu yang tidak bisa orang tua berikan maka anak dengan karakter yang dibentuk seperti itu akan marah dan kesal, dan yang disalahkan adalah orang tuanya. Karna kesal anak ini pun pergi meninggalkan rumah dan mencari tempat yang sekiranya nyaman untuk dia.
Didapati kasus yang terjadi di sekitar lingkungan tempat tinggal penulis, adanya prilaku yang menyimpang dari seorang anak yang kedua orang tuanya berprofesi sebagai guru di sebuah Sekolah Menengah Atas (SMA). Dilihat orang tuanya selalu memberikan yang diinginkan anaknya memanjakannya, hal ini juga dipengaruhi status anaknya itu bungsu, Prilaku anak ini menjurus kepada penyalahgunaan obat obat terlarang. Jika dilihat dari keadaan keluarganya, anak ini tidak kurang satupun, keluarga cemara yang berkecukupan materi juga kasih sayang orang tuanya.
Yang saya dapati, bahwasanya prilaku penyimpangan si anak muncul akibat adanya kesalahan pola asuh dari kedua orang tua yang selalu menuruti kemauan anaknya. Akibatnya ketika kemauan si anak ini tidak terpenuhi, muncul prilaku kasar dari dirinya yang berdampak kepada hubungannya dengan kedua orang tua dan masyarakat di sekitar tempat tinggalnya. Bahkan, beberapa tahun yang lalu si anak yang dipenuhi kasih sayang orang tuanya ini pun pernah ditangkap oleh pihak kepolisian karena kasus penyalahgunaan obat obatan terlarang. Perubahan perilaku pada anak ini dapat dilihat dari umur 14 tahun ia sudah menjadi anak yang temperamental, tidak segan segan mengamuk dengan melampiaskan pukulan dan tendangan pada barang barang dirumahnya hingga banyak property hancur pada saat itu si anak ini meminta uang padaa orang tuanya karna lakah berjudi Juga di bulan Ramadhan tahun 2022 kemarin, ibunya sampai harus berlindung di rumah tetangga akibat khawatir akan keselamatan jiwanya jika si anak ini kambuh prilaku buruknya.
Dengan adanya kasus ini dapat dilihat bahwa memberikan kasih sayang penuh dan memanjakan anak itu belum cukup, namun orang tua juga harus memberikan anak kepercayaan diri, semkecil mungkin seperti membiarkan anaknya mengambil makanannya sendiri sampai mecuci piring bekas makannya sendiri, hal ini akanm membuat anak mengerti akan tanggung jawab pada dirinya, pendidikan yang baik juga mempengaruhi perkembangan anak, lingkungan pendidikan yang baik akan membuat anak menjadi baik kalaupun anak itu merasa tidak nyaman dirumah danmemilih bermain dengan temannya, maka temannya itu baik dan tidak menjadikan anak buruuk juga, pemahaman tentang agama pada anak akan membuat anak tau batas batasnya dia bertindak, karna yang diajarkan agama adalah hal hal baik yang akan membentengi dirinya dari keinginan berbuat buruk.

Artikel ini ditulis oleh Hanifah Fazrin, Mahasiswa Semester 7 Prodi Hukum Keluarga Islam STAI Al-Azhary Cianjur
Editor: Arsila Fadwi











