- 28 TAHUN PAN: SAATNYA POTENSI DESA NAIK KELAS
- BAZNAS Cianjur dan Gerakan Peduli Stunting: Satu Kepedulian untuk Masa Depan Anak
- Bupati Cianjur: Posko Pengaduan Terima 500 Keluhan, Fokus pada Masalah Kesehatan
- Kolaborasi KKN IAI Al-Azhary dan UIN SGD Edukasi Warga Cihea tentang Kesadaran Hukum
- Disdikpora Cianjur Perkuat Pembelajaran Digitalisasi, Literasi, dan Numerasi lewat Bimtek Skala Kabu
- BAZNAS Cianjur Informasikan Bantuan Terus Berlanjut untuk Korban Gempa NTT
- Regulasi Berbasis HAM: Menjaga Ketertiban tanpa Penghakiman di Cianjur
- DPRD Cianjur Raih Penghargaan JDIHN 2026, Bukti Kinerja dan Komitmen Transparansi
- BAZNAS Cianjur: Selamat HUT ke-81 Jawa Barat, Lembur Diurus, Kota Ditata
- Disdikpora Cianjur Rayakan HUT RI ke-81: Perkuat Persatuan dan Membangun Generasi Unggul
28 TAHUN PAN: SAATNYA POTENSI DESA NAIK KELAS
Oleh: Yeti Nurhayati

Keterangan Gambar : Yeti Nurhayati (Wakil Ketua Bidang Pengembangan UMKM Dewan Pimpinan Daerah PAN Kabupaten Cianjur)
Pinusnews.id - Tanggal 23 Agustus bukan sekadar sebuah tanggal bagi keluarga besar Partai Amanat Nasional. Hari ini menjadi momentum untuk menengok kembali perjalanan 28 tahun PAN sekaligus bertanya, ke mana arah perjuangan politik ini hendak dibawa. Sebab semakin panjang usia sebuah partai, semakin besar pula tanggung jawabnya untuk memastikan bahwa politik tidak berhenti sebagai perebutan kekuasaan, tetapi benar-benar hadir dalam kehidupan masyarakat.
Dua puluh delapan tahun tentu bukan perjalanan yang singkat. Generasi berganti, zaman berubah, persoalan masyarakat semakin kompleks, dan tantangan ekonomi pun terus berkembang. Namun ada satu hal yang seharusnya tidak berubah: politik harus tetap memiliki hubungan dengan kepentingan rakyat. Kekuasaan pada akhirnya bukan tujuan, melainkan alat untuk membuka jalan agar masyarakat memiliki kesempatan yang lebih besar untuk memperbaiki kehidupannya.
Sebagai Wakil Ketua DPD PAN Kabupaten Cianjur Bidang Pengembangan UMKM, saya semakin sering berhadapan dengan persoalan itu. Ketika berbicara tentang UMKM, kita tidak sedang berbicara tentang angka-angka dalam laporan atau sekadar kegiatan bazar dan pelatihan. Kita berbicara tentang kehidupan nyata masyarakat: petani yang menunggu hasil panen, ibu rumah tangga yang mencoba menambah penghasilan keluarga, anak muda yang mencari pekerjaan, dan pelaku usaha kecil yang setiap hari berusaha mempertahankan usahanya.
Baca Lainnya :
- Odang Rohmat, Pengusaha Gula Semut Naringgul, Rekrut 8 Pekerja Akibat Terdampak Covid-19Â
- Dua Orang Cianjur Terseret Ombak Pantai Jayanti, Satu Selamat, Satu Orang Lagi Belum Ditemukan
- Berburu Tanaman Hias di Cianjur, Aglaonema Membawa Keberuntungan
- Polisi Ringkus Dua Pelaku Pembacokan Warga di Warungkondang
- Indahnya Berbagi Rezeki Bagi Keluarga H. Iva Vaiz
Dari sana saya melihat satu persoalan yang sangat dekat dengan kehidupan masyarakat Cianjur: kita sebenarnya tidak kekurangan potensi. Yang belum kuat adalah bagaimana potensi itu diolah menjadi nilai ekonomi yang lebih besar.
Cianjur memiliki tanah yang subur, hasil pertanian yang melimpah, sumber daya alam, dan masyarakat yang memiliki kemauan untuk bekerja. Tetapi terlalu banyak potensi yang berhenti sebagai bahan mentah. Gabah dijual sebagai gabah. Hasil pertanian dijual sebelum sempat diolah. Limbah pertanian dianggap tidak bernilai. Produk UMKM dibuat, tetapi belum semuanya memiliki merek, kemasan, manajemen dan akses pasar yang kuat.
Akibatnya, masyarakat bekerja keras menghasilkan sesuatu, tetapi nilai tambah terbesar justru sering dinikmati oleh pihak lain yang menguasai pengolahan, distribusi dan pemasaran. Ini bukan soal menyalahkan siapa pun. Ini adalah persoalan bagaimana kita membangun rantai ekonomi yang membuat masyarakat memiliki posisi yang lebih kuat di dalamnya.
Karena itu, pengembangan UMKM tidak cukup hanya dengan memberikan bantuan. Bantuan memang penting, tetapi masyarakat juga membutuhkan kemampuan untuk tumbuh. Mereka membutuhkan pendampingan, pengolahan yang lebih baik, kemasan dan merek yang kuat, manajemen usaha, serta akses terhadap pasar.
Di sinilah gagasan “Hasil Desa, Naik Kelas” menjadi penting.
Padi, misalnya, jangan berhenti sebagai gabah yang dijual setelah panen. Hasilnya dapat diolah menjadi beras dengan kualitas dan merek yang lebih kuat. Bahkan bagian yang selama ini dianggap limbah, seperti dedak dan sekam, masih dapat dimanfaatkan dan menghasilkan nilai ekonomi. Dengan demikian, yang kita bangun bukan hanya produksi, tetapi sebuah rantai nilai yang memberikan manfaat lebih besar kepada masyarakat.
Begitu pula dengan sapu lidi. Barang yang terlihat sederhana itu sebenarnya menunjukkan bahwa potensi ekonomi tidak selalu harus datang dari sesuatu yang besar dan canggih. Ketika bahan bakunya tersedia, masyarakat memiliki kemampuan memproduksi, kualitasnya dapat dijaga, dan pasarnya dibuka lebih luas, produk sederhana pun dapat menjadi sumber penghasilan dan memiliki peluang menembus pasar yang lebih luas.
Cara pandang seperti inilah yang ingin saya dorong melalui bidang yang saya emban di DPD PAN Kabupaten Cianjur. UMKM tidak cukup hanya dibantu untuk bertahan. UMKM harus didorong untuk naik kelas.
Naik kelas berarti bukan hanya mampu memproduksi, tetapi mampu mengelola usaha. Bukan hanya mempunyai barang, tetapi mempunyai produk. Bukan hanya mempunyai produk, tetapi mempunyai merek. Bukan hanya mempunyai merek, tetapi mempunyai pasar.
Saya membayangkan desa-desa di Cianjur tidak hanya menjadi tempat mengambil bahan baku untuk kemudian dikirim ke tempat lain. Desa harus bisa menjadi tempat lahirnya produk, tumbuhnya usaha, terciptanya lapangan pekerjaan, dan berkembangnya generasi muda. Anak-anak muda tidak harus selalu pergi ke kota hanya karena merasa tidak ada masa depan di kampungnya sendiri. Ibu-ibu tidak harus hanya menjadi konsumen, tetapi dapat tumbuh menjadi pelaku usaha. Petani tidak hanya menjadi penghasil bahan baku, tetapi juga memiliki posisi tawar dalam rantai ekonomi yang lebih panjang.
Tentu perjalanan menuju ke sana tidak mudah. Ada persoalan modal, manajemen, kualitas produksi, pemasaran, konsistensi pasokan, hingga akses pasar. Semua itu adalah kenyataan yang tidak boleh ditutup-tutupi hanya demi membuat sebuah program terlihat indah.
Justru karena tantangannya nyata, politik harus hadir sebagai jembatan. Mempertemukan masyarakat dengan pengetahuan, mempertemukan UMKM dengan pasar, mempertemukan produk desa dengan jaringan distribusi, serta membuka ruang bagi anak muda untuk melihat bahwa membangun usaha di desa juga merupakan pilihan masa depan.
Bagi saya, di situlah politik menemukan maknanya. Bukan hanya hadir ketika membutuhkan suara, tetapi hadir ketika masyarakat membutuhkan jalan untuk berkembang.
Di usia PAN yang ke-28, saya berharap semangat itu semakin kuat. PAN harus semakin dekat dengan petani, UMKM, perempuan, anak muda dan masyarakat desa. Bukan sekadar datang membawa program, tetapi ikut memastikan bahwa masyarakat memiliki kemampuan untuk mengembangkan apa yang mereka miliki.
Sebab kesejahteraan tidak akan lahir hanya dari banyaknya bantuan yang dibagikan. Kesejahteraan tumbuh ketika masyarakat memiliki kemampuan, kesempatan dan akses untuk meningkatkan kehidupannya sendiri.
Harapan saya untuk PAN di usia ke-28 sederhana, tetapi tidak ringan: semoga semakin bertambah usia, semakin besar pula kebermanfaatannya. Semoga politik semakin jauh dari sekadar perebutan posisi dan semakin dekat dengan kerja nyata. Dan semoga amanat rakyat tidak hanya menjadi kata-kata, tetapi benar-benar menjadi arah dalam setiap langkah perjuangan.
Cianjur memiliki modal yang besar. Tanahnya, hasil pertaniannya, sumber daya alamnya, dan terutama masyarakatnya adalah kekuatan yang tidak boleh dipandang sebelah mata. Yang kita perlukan adalah keberanian untuk mengolah semua itu menjadi nilai tambah.
Sebab pertanyaan pentingnya bukan lagi apa yang belum kita punya, melainkan apa yang sudah kita punya dan bagaimana membuatnya menjadi lebih bernilai.
Saya percaya, dari sanalah perubahan ekonomi rakyat dapat dimulai.
Dari gabah menjadi beras bernilai tambah.
Dari limbah menjadi sumber penghasilan.
Dari produk sederhana menjadi komoditas yang memiliki pasar.
Dari desa menjadi pusat pertumbuhan ekonomi.
Dan dari potensi menjadi kesejahteraan.
Inilah harapan saya di usia 28 tahun PAN: bukan sekadar PAN yang semakin besar, tetapi PAN yang semakin berarti bagi rakyat.
Selamat Milad ke-28 Partai Amanat Nasional. Semoga amanat rakyat terus menjadi arah perjuangan.


.jpg)







