- Imbauan Satpolairud Cianjur: Nelayan Diminta Utamakan Keselamatan saat Gelombang Tinggi
- Memperkuat Kebersamaan dan Kesejahteraan: BAZNAS Cianjur Berperan Aktif di Hari Jadi ke-349
- Rahayat Raksa Raharja: Semangat Gotong Royong Warnai Hari Jadi Cianjur ke-349
- Hadiah Hari Jadi Cianjur ke-349: Jalan Baru Cikadu dari Pemerintah Provinsi Jadi Wujud Perhatian KDM
- PUTR Cianjur: Bersama Membangun Cianjur Era Baru di Milangkala ke-349
- BAZNAS Cianjur Tetap Hadir untuk Umat: Fokus Layanan Kesehatan dan Bantuan Perjalanan Saat Masa Tran
- Warga Cianjur Gugat Keterbukaan Putusan Etik DPRD soal Dugaan Penyelewengan Dana Reses
- BAZNAS Cianjur Renovasi Rumah, Hadirkan Harapan Baru untuk Keluarga Ibu Siti
- Optimalkan BOSP Kinerja 2026: 124 SD di Cianjur Diberi Sosialisasi untuk Tingkatkan Mutu Pendidikan
- DPRD Cianjur dan Kejaksaan Tandatangani Kesepakatan: Perkuat Kepastian Hukum Tata Kelola Daerah
Ukar Berusia 116 Tahun, Pejuang Sipil Melawan Penjajah Belanda, Kini Hidup Seorang Diri

Keterangan Gambar : Ukar pejuang sipil yang terlupakan, kini berumur 116 tahun hidup menyendiri di wilayah Cibeber, Cianjur.
Pinusnews.id - Malam selalu datang dengan kesunyian di sebuah rumah panggung sederhana di Kampung Bangsakara, RT 03/08 Desa Cibadak, Kecamatan Cibeber.
Dari luar, rumah kayu berdinding bilik itu tampak gelap gulita. Bukan karena listrik tak ada, melainkan karena penghuninya, seorang lelaki tua bernama Ukar, memang memilih hidup dalam keheningan.
“Kalau gelap lebih tenang, pikirannya jadi adem,” begitu alasan singkat Ukar yang kini berusia 116 tahun.
Baca Lainnya :
- Pemdes Tanjungsari Sukaluyu Bagikan BLT
- Peranan PT. Bukit Naga Mas Kembangkan UMKM di Cianjur
- Ini Hasil Penghitungan Suara Pilkada Cianjur 2020
- Geger, Mayat Pria Ditemukan Meninggal  dalam Rumah
- BNN RI Intip Program Desa Bersih Narkoba di Cianjur
Tubuhnya sudah renta, wajahnya penuh keriput, namun ia masih bisa duduk tegap menyambut siapa pun yang datang berkunjung. Sehari-hari, ia tinggal seorang diri di rumah panggung itu. Meski hidup sebatang kara, Ukar enggan merepotkan orang lain, meskipun dalam kancah kehidupan modern terlupakan sama sekali, padahal Ukar adalah seorang pejuang.
“Pak Ukar ini sosok yang mandiri. Walaupun sudah sepuh, beliau masih kuat dan tidak mau merepotkan saudara atau keluarganya,” kata Kepala Desa Cibadak, Elan Hermawan.
Namun Ukar bukan sekadar tetua biasa. Ia adalah saksi hidup perjuangan bangsa. Sebagai pejuang sipil di masa penjajahan Belanda, ia pernah ikut serta melawan penindasan dengan caranya sendiri. Kisah itu masih ia ingat dan sesekali ia ceritakan kepada warga yang singgah di berandanya.
Rumah panggung yang ia tinggali seakan menjadi ruang sunyi penyimpan banyak cerita. Dari dinding bilik yang mulai lapuk, hingga lantai kayu yang berderit ketika dipijak, semuanya menyimpan jejak perjalanan sepanjang waktu hidupnya.
Bagi warga sekitar, Ukar bukan hanya seorang sepuh berusia lebih dari satu abad. Ia adalah teladan kesahajaan hidup, keteguhan hati, dan bukti nyata betapa panjang usia bisa tetap dijalani dengan ketenangan tanpa keluhan.
Di tengah gelapnya malam di rumah panggung itu, Ukar seolah menyatu dengan waktu, menjadi saksi bisu perjalanan negeri yang pernah ia perjuangkan. (tim dens).











