METODOLOGI BINTANG, SIMBOLISME DAJJAL BERMATA SATU DAN POSITIVISME AUGUSTE COMTE
Nanang Gojali , Staf Pengajar FISIP UIN Sunan Gunung Jati Bandung

17 Okt 2024, 07:01:42 WIB Pendidikan
METODOLOGI BINTANG, SIMBOLISME DAJJAL BERMATA SATU DAN POSITIVISME AUGUSTE COMTE

Keterangan Gambar : Sumber: kumparan


Metodologi Bintang menggunakan pendekatan yang unik dalam memahami Al-Qur'an, yaitu mengaitkan teks wahyu dengan fenomena dunia modern, terutama fenomena politik, ekonomi, dan sosial. 

Al-Qur’an harus dikaji dengan menggabungkan kajian teks dengan kajian realitas dunia. Kita perlu memahami bagaimana Tanda-tanda Allah dalam alam semesta dan sejarah mengisyaratkan transformasi besar di dunia yang tidak hanya material, tetapi juga spiritual. 

Dengan demikian, metodologi ini tidak hanya membaca Al-Qur’an sebagai kitab sejarah masa lalu, tetapi juga sebagai petunjuk bagi realitas masa kini dan masa depan.

Baca Lainnya :

Pandangan ini memadukan pemahaman literal dan metaforis dari Al-Qur'an untuk menyingkap realitas dunia modern yang penuh tantangan, serta menawarkan perspektif spiritual yang dapat digunakan untuk memahami perkembangan dunia, termasuk kebangkitan kekuatan global dan konflik geopolitik.

Perspektif ini selaras dengan, dan didasarkan atas Hadits yang menyatakan bahwa dajjal membawa air dan api. Dengan fitnah ini, dajjal ingin menipu manusia agar air terlihat seperti api, dan sebaliknya api terlihat seperti air. Konsekwensinya, realitas dunia yang sebenarnya sering berbeda dari penampakan lahirnya. Maka dibutuhkan metodologi untuk melihat realitas dunia di balik penampakan lahirnya.

Dari Hudzaifah bin al-Yaman, Rasulullah SAW bersabda: "Aku lebih mengetahui apa yang dibawa oleh Dajjal. Ia membawa dua sungai yang mengalir: yang satu tampak dari pandangan mata berupa air putih, dan yang lainnya tampak berupa api yang menyala-nyala. Jika ada yang menjumpainya, hendaklah ia mendatangi sungai yang tampak seperti api, dan menutup matanya, lalu ia menundukkan kepala dan minum dari sungai tersebut, karena itu adalah air yang sejuk." (HR. Bukhari dan Muslim)

Hadits ini menggambarkan salah satu bentuk fitnah Dajjal, di mana Dajjal menipu manusia dengan membalikkan realitas. Apa yang tampak seperti air sebenarnya adalah api, dan yang tampak seperti api sebenarnya adalah air. 

Ini adalah simbol dari kebohongan yang sangat besar, dimana apa yang tampak benar di mata manusia sebenarnya adalah kebatilan, dan sebaliknya.

Hadits ini menjelaskan bagaimana dunia modern penuh dengan ilusi dan tipuan yang menyesatkan. Dunia sering kali menyajikan sesuatu yang tampak baik di permukaan, namun pada kenyataannya membawa keburukan. Sebaliknya, sesuatu yang tampak buruk bisa jadi mengandung kebenaran.

Dalam konteks dunia modern, fenomena politik, ekonomi, dan budaya sering kali diselimuti oleh propaganda dan manipulasi informasi. Media, pemerintah, dan kekuatan global dapat memperlihatkan sesuatu yang tampak baik (seperti "demokrasi", "kemakmuran", atau "perdamaian"), namun di baliknya terdapat penindasan, penjajahan, dan eksploitasi. 

Sebaliknya, perlawanan terhadap kekuatan ini mungkin tampak destruktif di permukaan, namun sebenarnya bisa merupakan bentuk perlawanan terhadap ketidakadilan.

Penafsiran simbolis bahwa Dajjal melihat dunia dengan satu mata menggambarkan ketidakseimbangan dalam persepsi. Mata Dajjal yang satu melambangkan kemampuan melihat aspek duniawi atau lahiriah saja, tanpa memahami dimensi batiniah atau hakikat yang lebih dalam. 

Fitnah Dajjal ini mengisyaratkan ujian besar bagi manusia, yakni terperangkap dalam ilusi dunia tanpa dapat melihat kebenaran yang tersembunyi di baliknya.

Kapasitas untuk memahami realitas yang sejati tidak hanya membutuhkan penglihatan fisik (mata lahir), tetapi juga "mata batin" yang dapat menembus aspek spiritual dan hakikat kehidupan. 

Dajjal sebagai simbol ketertipuan oleh duniawi mengajarkan bahwa seseorang yang hanya melihat secara material (lahiriah) akan mudah terjerumus dalam fitnah dunia yang menipu, sementara orang yang memiliki pandangan batin dapat menolak fitnah tersebut karena mereka melihat kebenaran yang lebih dalam.

Dalam konteks ini, "mata lahir" merujuk pada kemampuan untuk melihat dunia secara fisik, sedangkan "mata batin" merujuk pada kemampuan spiritual untuk memahami hakikat dari realitas yang tidak selalu tampak pada permukaan. 

Dajjal disebut sebagai makhluk yang "buta sebelah" (buta secara batin), karena ia hanya melihat aspek lahiriah dunia dan tidak memahami atau mengabaikan realitas batiniah yang lebih dalam.

Dajjal mengajarkan kesesatan melalui dunia material dan penampakan fisik, tetapi tidak mengakui aspek rohani atau kebenaran yang bersumber dari Allah. 

Dengan hanya melihat dunia melalui "satu mata," ia melambangkan seseorang yang terjebak dalam keduniawian, tanpa kapasitas untuk melihat esensi spiritual dan kebenaran di baliknya.

Sedangkan bagi umat Islam, penting untuk memiliki penglihatan "dua mata," yaitu kombinasi antara memahami dunia fisik (lahir) sekaligus melihatnya melalui mata batin yang mampu menembus realitas hakiki yang tersembunyi.

Metodologi untuk Menyingkap Realitas Dunia

Metodologi bintang mengacu pada kebutuhan untuk melihat realitas dunia di balik penampakannya. Bintang, dalam perspektif Syekh Imran, melambangkan petunjuk Ilahi yang bisa membantu manusia memahami apa yang tersembunyi di balik ilusi dunia. 

Ini berkaitan dengan kemampuan untuk melihat tanda-tanda zaman (signs of the times) dan menganalisis peristiwa dunia berdasarkan panduan Al-Qur'an dan Hadits.

Dalam hal ini, metodologi bintang bertujuan untuk:

Pertama, memahami realitas spiritual di balik realitas material. Dunia fisik mungkin menunjukkan hal-hal yang tampak memuaskan atau memikat, tetapi tanpa hikmah dan pengetahuan spiritual, manusia bisa tertipu.

Kedua, petunjuk dari wahyu harus menjadi kompas untuk menilai realitas dunia. Apa yang tampak sebagai kemajuan di mata modernitas mungkin sebenarnya adalah penipuan yang mengarah kepada kehancuran moral dan spiritual.

Ketiga, untuk menggunakan hikmah dan ketajaman analisis diperlukan kecerdasan spiritual dan intelektual guna menafsirkan tanda-tanda yang tersembunyi di balik kenyataan dunia. Ini termasuk memahami geopolitik, ekonomi, dan perubahan sosial dari perspektif yang lebih dalam, tidak hanya dari apa yang tampak di permukaan.

Mata Satu Dajjal dan Positivisme Auguste Comte

Penjelasan hubungan antara simbol Dajjal bermata satu dan positivisme Auguste Comte bisa dilakukan dengan menggambarkan kesamaan sifat mendasar dari keduanya, yaitu keterbatasan pandangan yang hanya bertumpu pada dunia empiris atau fisik, tanpa memperhatikan aspek metafisik atau spiritual.

Dalam konteks agama, Dajjal digambarkan sebagai sosok yang memiliki hanya satu mata, yang secara simbolis bisa diartikan sebagai pandangan yang terbatas hanya pada aspek duniawi atau materi. Dajjal digambarkan sebagai penipu yang fokus pada dunia fisik dan mengabaikan kebenaran spiritual atau esensi yang lebih dalam dari kehidupan.

Positivisme adalah aliran filsafat yang dikembangkan oleh Auguste Comte pada abad ke-19. Positivisme berpendapat bahwa pengetahuan yang sahih hanya dapat diperoleh melalui pengalaman indrawi dan fakta empiris. 

Dengan demikian, positivisme mengabaikan aspek metafisik, spiritual, atau hal-hal yang tidak dapat diukur secara empiris. Comte menekankan bahwa sains dan observasi adalah satu-satunya metode yang valid untuk memahami dunia.

Hubungan di antara keduanya dapat dijelaskan melalui aspek-aspek berikut:

Pertama, pandangan terbatas: Dajjal bermata satu sering diartikan sebagai simbol dari pandangan yang terdistorsi atau terbatas, hanya mampu melihat dunia dari satu sisi, yakni sisi materi atau fisik. 

Hal ini bisa dianalogikan dengan positivisme, yang juga membatasi sumber pengetahuan hanya pada apa yang dapat diindera dan diukur secara empiris, tanpa memperhitungkan aspek non-material atau spiritual dari realitas.

Kedua, pengabaian aspek spiritual: Dalam kedua simbol tersebut, ada pengabaian terhadap hal-hal yang tidak bisa diukur oleh sains atau empirisme. 

Dalam agama, Dajjal adalah sosok yang menipu umat manusia dengan hanya memperlihatkan sisi duniawi yang tampak. Begitu pula, positivisme dianggap sebagai menipu karena mengabaikan dimensi spiritual, intuisi, atau hal-hal di luar pengalaman indrawi.

Dengan demikian, keduanya dapat dianggap sebagai representasi dari cara pandang yang terlalu fokus pada satu aspek realitas, yaitu dunia fisik atau material. 

Baik Dajjal dalam simbolisme agama maupun positivisme Comte dalam filsafat, menunjukkan keterbatasan dalam memahami keseluruhan kebenaran, karena mereka mengabaikan dimensi spiritual atau non-empiris yang bisa saja memberikan wawasan lebih mendalam tentang kehidupan dan alam semesta.

Kesimpulan

Realitas spiritual dan non-material tidak terjangkau oleh metode observasi dan eksperimen, sehingga Positivisme dengan demikian, tidak akan pernah bisa memahami realitas di balik dunia empirik.

Di balik sistem politik demokrasi ada pemaksaan kehendak, di balik sistem moneter dan ekonomi ada kedzaliman dan penindasan, di balik isu kesetaraan gender ada propaganda LGBT, di balik sistem pendidikan dan pengetahuan ada perang pemikiran. Tidak semua fenomena ini terjangkau oleh metode observasi dan eksperimen.

Ini yang menyebabkan terjadinya kekacauan dan kerusakan dalam dunia pendidikan, pengetahuan dan sistem pemikiran, berdampingan dengan kekacauan dan kerusakan dalam sistem militer dan pertahanan, sistem politik dan pemerintahan, sistem ekonomi dan moneter, dan dalam berbagai komponen peradaban lainnya.

Sulit memahami mengapa dan bagaimana semua kekacauan dan kerusakan ini bisa terjadi, tanpa menggunakan Metodologi Bintang yang diterapkan Eskatologi Islam dalam menjelaskan realitas dunia modern, yang dalam banyak hal, jika tidak dalam semua hal, beririsan dengan kondisi dunia akhir zaman.

والله اعلم




Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

View all comments

Write a comment