Disdikpora Cianjur: Pastikan Belajar Anak Terdampak Banjir Tetap Lancar dan Perhatian Psikologis

08 Mei 2026, 08:23:31 WIB PERISTIWA
Disdikpora Cianjur: Pastikan Belajar Anak Terdampak Banjir Tetap Lancar dan Perhatian Psikologis

Keterangan Gambar : Kepala Disdikpora Kabupaten Cianjur, Ruhli Solehudin, turun ke lapangan dan menyerahkan bantuan untuk para siswa terdampak bencana banjir di wilayah Kecamatan Mande, Cianjur. (Foto istimewa).


Pinusnews.id - Banjir yang melanda Desa Jamali, Kecamatan Mande, Kabupaten Cianjur, meninggalkan luka mendalam bagi warga, terutama para siswa yang kehilangan fasilitas belajar. Namun, di tengah krisis ini, Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (Disdikpora) Cianjur menunjukkan kinerja luar biasa dengan memastikan aktivitas belajar tetap berjalan tanpa hambatan. Langkah ini bukan hanya reaktif, melainkan proaktif, menjadikan pendidikan sebagai prioritas utama pasca-bencana.

Kepala Disdikpora Cianjur, Ruhli Solehudin, langsung turun ke lapangan untuk memimpin upaya pemulihan. Usai menyalurkan bantuan, ia menegaskan komitmen dinasnya. Mapping mendetail dilakukan untuk mengidentifikasi korban, menunjukkan ketelitian birokrasi yang jarang terlihat di daerah rawan bencana seperti Cianjur.

“Setelah melaksanakan mapping di lapangan, terdapat sekitar 32 anak yang terdampak. Dari jenjang PAUD sekitar dua orang, SD 18 orang, SMP 10 orang, dan SMK tiga orang,” ujarnya kepada wartawan. Data ini menjadi dasar aksi cepat Disdikpora, membuktikan bahwa mereka tidak hanya merespons, tapi juga mengantisipasi kebutuhan spesifik setiap jenjang pendidikan.

Baca Lainnya :

Bantuan pendidikan disalurkan secara masif dan tepat sasaran. Disdikpora Cianjur membagikan school kit, seragam sekolah, sepatu, hingga uang tunai, menyesuaikan dengan realitas lapangan. Pendekatan ini mencerminkan pemahaman mendalam terhadap tantangan orang tua korban banjir yang seringkali kehilangan segalanya.

“Pada kesempatan itu kita memberikan bantuan berupa school kit, kemudian seragam sekolah, sepatu sekolah, dan mudah-mudahan ke depan kita ajukan juga untuk mendapatkan beasiswa,” tambahnya. Rencana beasiswa ke depan semakin menonjolkan visi jangka panjang Disdikpora Cianjur dalam membangun ketahanan pendidikan.

Uang kadeudeuh senilai Rp500 ribu per siswa diberikan secara fleksibel, menghindari kesalahan ukuran barang yang sering terjadi dalam bantuan langsung. “Kita memberikan uang kadeudeuh sekitar Rp500 ribu untuk pembelian sepatu dan seragam sekolah. Kalau dibelikan langsung, dikhawatirkan ukurannya tidak sesuai,” ungkap Ruhli. Inovasi ini membuat bantuan lebih efektif dan dihargai masyarakat.

Tak berhenti di materi, Disdikpora Cianjur juga fokus pada pemulihan mental siswa. Sekolah diinstruksikan untuk memberikan pendampingan intensif, memastikan anak-anak tidak trauma berkepanjangan. Ini adalah bukti empati dinas yang mengintegrasikan aspek psikososial dalam penanganan bencana.

“Kita terus berkomunikasi dengan kepala sekolah dan wali kelas supaya memberikan support kepada anak didik agar tidak terlalu down. Karena bagaimanapun ini merupakan kewajiban bersama untuk terus memberikan motivasi agar anak-anak tetap ingin bersekolah,” tuturnya. Koordinasi ini memperkuat semangat belajar di tengah duka.

Kolaborasi dengan Puskesmas menjadi langkah cerdas lainnya, memantau kesehatan fisik dan mental siswa secara berkala. “Kita telah berkoordinasi dengan pihak Puskesmas karena kita wajib melihat perkembangan kondisi anak. Jangan sampai ada yang sakit atau mengalami trauma berkepanjangan,” jelas Ruhli. Kerja sama lintas sektor ini menjadikan Disdikpora Cianjur sebagai model penanganan bencana holistik.

Hasilnya patut diapresiasi karena seluruh 32 siswa tetap aktif belajar dengan semangat tinggi. “Alhamdulillah, semuanya masih melaksanakan kegiatan pembelajaran. Kemarin juga kita instruksikan apabila ada siswa yang tidak datang sekolah harus segera dicek dan dikomunikasi dengan orang tua,” bebernya. Bahkan kendala transportasi langsung diatasi, membuktikan responsivitas dinas.

Kinerja Disdikpora Cianjur ini menjadi inspirasi bagi daerah lain. 

“Motivasi dan harapan mereka untuk tetap sekolah masih tinggi. Itu menjadi motivasi tersendiri bagi kita semua untuk terus melayani dunia pendidikan,” tandas Ruhli. Di balik banjir, muncul kisah ketangguhan pendidikan yang dipimpin dinas ini, menegaskan bahwa pendidikan adalah benteng terakhir dalam menghadapi bencana. (dens).




Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

View all comments

Write a comment