- PUTR Cianjur: Bersama Membangun Cianjur Era Baru di Milangkala ke-349
- BAZNAS Cianjur Tetap Hadir untuk Umat: Fokus Layanan Kesehatan dan Bantuan Perjalanan Saat Masa Tran
- Warga Cianjur Gugat Keterbukaan Putusan Etik DPRD soal Dugaan Penyelewengan Dana Reses
- BAZNAS Cianjur Renovasi Rumah, Hadirkan Harapan Baru untuk Keluarga Ibu Siti
- Optimalkan BOSP Kinerja 2026: 124 SD di Cianjur Diberi Sosialisasi untuk Tingkatkan Mutu Pendidikan
- DPRD Cianjur dan Kejaksaan Tandatangani Kesepakatan: Perkuat Kepastian Hukum Tata Kelola Daerah
- DPRD Cianjur dan Kejaksaan Tandatangani Kesepakatan: Perkuat Kepastian Hukum Tata Kelola Daerah
- Pemkab Cianjur Bagikan 100 Sertifikat dan 65 Kepesertaan BPJS Ketenagakerjaan di Agrabinta
- Wagub Erwan Serukan Masyarakat Jabar Berpartisipasi dalam Sensus Ekonomi 2026
- Dinas Pendidikan Cianjur Atasi 2.079 Calon Siswa Belum Tembus SPMB: Solusi dan Arahan untuk Orang Tu
DENGAN SIAPA NEGERI MUSLIM HARUS BERALIANSI?
Nanang Gojali, Dosen Ilmu Politik FISIP UIN Bandung

Keterangan Gambar : Sumber: SUARAISLAM.ID
Terdapat isyarat kuat dalam Al-Qur'an tentang aliansi yang terlarang dan aliansi yang diperintahkan di akhir zaman. Uniknya, dalam Hadits, isyarat aliansi yang sepintas tampak bertentangan ini, keduanya terkait dengan bangsa Rum.
Nubuwwah Al- Qur'an yang terdapat pada Surat Al-Anfal Ayat 73 ini sifatnya implisit/mutasyabihat, sehingga untuk memahaminya dibutuhkan penafsiran atau interpretasi:
وَا لَّذِيْنَ كَفَرُوْا بَعْضُهُمْ اَوْلِيَآءُ بَعْضٍ ۗ اِلَّا تَفْعَلُوْهُ تَكُنْ فِتْنَةٌ فِى الْاَ رْضِ وَفَسَا دٌ كَبِيْرٌ
Baca Lainnya :
- Melihat Pesantren Al-Kautsar Cianjur Cetak Generasi Unggul, Ini Program Kurikulum Jitunya
- Tim Pol PP Cianjur Obrak-Abrik Pengedar Miras
- KPU Cianjur Perketat Prokes, Proses Pelipatan Kertas Surat Suara Pilkada 2020
- Ratusan Minuman Beralkohol Roso-Roso Diamankan Polres Cianjur di Rumah Kontrakan
- Jenazah PMI Tertahan Di Saudi Arabia, LSM FPMI Kirim Surat Ke Presiden Jokowi
"Dan orang-orang yang kafir, sebagian mereka melindungi sebagian yang lain. Jika kamu tidak melaksanakan apa yang telah diperintahkan Allah (saling melindungi), niscaya akan terjadi kekacauan di Bumi dan kerusakan yang besar."
Dalam memahami Ayat ini, terdapat tiga kelompok penafsiran: klasik, kontemporer dan eskatologis.
Penafsiran Klasik
Dalam tafsir klasik, para ulama umumnya memahami Ayat ini sebagai peringatan kepada kaum Muslim untuk bersatu dalam melawan ancaman eksternal dari orang-orang kafir. Mereka menekankan bahwa orang-orang kafir saling mendukung satu sama lain dalam upaya menentang Islam, sehingga kaum Muslim juga harus bersatu dan tidak terpecah belah.
Para mufassir klasik seperti Ibnu Katsir dan At-Tabari menekankan, jika umat Islam tidak bersatu dan tidak mematuhi perintah Allah, maka akan terjadi kekacauan dan kerusakan besar di muka bumi.
Konteks historis tafsir klasik sering kali menghubungkan Ayat ini dengan situasi pada masa Nabi Muhammad SAW, seperti Perang Badar dan perang lainnya, di mana persatuan kaum Muslim menjadi kunci keberhasilan.
Penafsiran Kontemporer
Penafsiran kontemporer cenderung memperluas konteks Ayat ini agar relevan dengan situasi global saat ini. Ada fokus yang lebih besar pada isu-isu sosial, politik, dan hubungan internasional.
Dalam konteks dunia modern, banyak ulama kontemporer menafsirkan Ayat ini sebagai seruan untuk persatuan global umat Islam, mengingat dunia saat ini menghadapi tantangan geopolitik, penjajahan, dan ketidakadilan.
Ayat ini digunakan untuk mengingatkan pentingnya solidaritas dan kerja sama antarnegara Muslim dalam menghadapi tantangan global seperti imperialisme dan kapitalisme.
Beberapa cendekiawan modern menafsirkan Ayat ini dalam konteks hubungan internasional, dimana bangsa-bangsa non-Muslim bersatu dalam koalisi politik atau ekonomi yang dapat menekan negara-negara Muslim. Ayat ini dipahami sebagai dorongan bagi umat Islam untuk membangun aliansi yang kuat demi melindungi kepentingan umat.
Ayat ini juga dipandang sebagai peringatan akan bahaya ketidakadilan sosial dan kerusakan moral di dunia modern. Kerusakan yang disebutkan dalam Ayat ini diartikan sebagai ketidakstabilan politik, ketidakadilan ekonomi, dan konflik sosial yang dapat menghancurkan perdamaian dan stabilitas global.
Beberapa ulama modern menekankan bahwa kerusakan atau kekacauan yang dimaksud dalam Ayat ini bisa berupa kerusakan ekologi, politik, atau sosial yang muncul akibat ketidakadilan dan kesenjangan antara kelompok-kelompok masyarakat.
Penafsiran Eskatologis
Penafsiran eskatologis ditawarkan oleh Syekh Imran Hosein. Penafsiran ini membawa perspektif geopolitik yang unik dalam memahami dinamika kekuatan dunia dan peran umat Islam di dalamnya.
Syekh Imran yang dikenal dengan pandangan eskatologinya, kerap mengaitkan Ayat-ayat Al-Qur'an dengan fenomena dunia modern, khususnya dalam konteks akhir zaman.
Menurut Syekh Imran, bagian pertama Ayat ini menyebutkan bahwa orang-orang kafir saling melindungi dan bersekutu satu sama lain. Dalam konteks modern, beliau mengartikan "orang-orang kafir" sebagai aliansi global antara negara-negara barat yang didominasi oleh kekuatan politik dan militer Kristen dan Yahudi, yang saat ini diekspresikan melalui institusi NATO.
NATO adalah representasi dari aliansi Yudeo-Kristen yang sangat kuat, dalam melindungi kepentingan-kepentingan barat, termasuk Israel. Aliansi ini memainkan peran sentral dalam menjaga dominasi politik, militer, dan ekonomi di seluruh dunia, khususnya di dunia Islam.
Karena itu, umat Islam dilarang untuk membangun aliansi dengan NATO atau kekuatan-kekuatan barat ini, karena bertentangan dengan nilai-nilai Islam dan sering kali menjadi pihak yang menindas umat Islam di berbagai belahan dunia.
Syekh Imran sering mengaitkan ini dengan penindasan terhadap Palestina, invasi ke negara-negara Muslim, dan berbagai konflik yang melibatkan dunia Islam.
Bagian kedua dari Ayat ini menyebutkan bahwa jika umat Islam tidak membentuk aliansi serupa, maka akan terjadi kekacauan dan kerusakan besar di muka bumi.
Syekh Imran menafsirkan ini dalam konteks geopolitik global modern sebagai kewajiban bagi umat Islam untuk membangun aliansi dengan kekuatan yang menentang NATO dan dominasi barat.
Dalam analisis geopolitik, Rusia (dan sekutunya) dipandang sebagai kekuatan alternatif yang menentang hegemoni NATO. Menurutnya, dunia Islam harus membangun aliansi dengan Rusia, karena Rusia di masa modern berada di pihak yang berlawanan dengan kebijakan ekspansionis barat.
Dia memandang Rusia sebagai kekuatan yang lebih dekat dengan nilai-nilai keadilan yang dihargai dalam Islam, dibandingkan dengan kekuatan barat yang imperialis dan mendominasi.
Syekh Imran juga mengaitkan pandangan ini dengan Eskatologi Islam, di mana dia melihat Rusia sebagai pihak yang memainkan peran penting dalam konflik akhir zaman melawan kekuatan Dajjal (anti-Kristus), yang berpusat di barat.
Oleh karena itu, aliansi dengan Rusia dan negara-negara yang menentang NATO dipandang sebagai langkah strategis bagi umat Islam dalam menghadapi fase akhir zaman yang semakin mendekat.
Jika umat Islam tidak membangun aliansi yang kuat sebagai tanggapan terhadap aliansi Yudeo-Kristen, maka akan terjadi kekacauan dan kerusakan besar di dunia, yang kini mulai terlihat melalui peperangan yang semakin mengkhawatirkan, kehancuran moral, ketidakadilan ekonomi, dan krisis kemanusiaan. Kekacauan ini mencakup invasi ke negara-negara Muslim, kemunduran moral, kemiskinan, dan dominasi global yang merugikan dunia Islam.
Kekacauan yang disebutkan dalam ayat ini juga telah terlihat dalam perang yang terjadi di Timur Tengah, yang awalnya berpusat di Palestina, tapi kini sudah merembet ke Libanon, Yaman, Irak, Iran dan Syria.
Konteks Modern
Berdasarkan penafsiran eskatologis ini, dapat disimpulkan bahwa umat Islam dilarang membangun aliansi dengan orang-orang kafir yang di antara mereka sendiri saling melindungi.
Konteks modern anak kalimat pertama pada Ayat ini adalah aliansi Yudeo-Kristen barat yang kini memiliki NATO. Umat Islam dilarang beraliansi dengan mereka, yang dalam konteks historis adalah Rum Barat.
Sebaliknya, dunia Islam diperintahkan untuk membangun aliansi serupa untuk mengimbangi kekuatan aliansi pertama. Aliansi itu haruslah dibangun dengan kekuatan yang bisa menandingi NATO, baik secara politik, ekonomi dan militer. Dalam konteks modern, tidak ada yang bisa menandingi mereka kecuali Rusia dan sekutunya, yang dalam konteks historis adalah Rum Timur.
Al-Qur'an memperingatkan, jika dunia Islam tidak membangun aliansi serupa, maka akan terjadi kekacauan dan kerusakan yang besar di muka bumi. Dalam perspektif Eskatologi Islam, anak kalimat ini mengisyaratkan atau mengantisipasi akan terjadinya perang besar.
Melihat kondisi dunia Islam hari ini yang masih sangat sulit menyatukan sikap dalam menghadapi penindasan dan genosida di Tanah Suci Palestina, maka ketika peringatan Allah dalam Ayat ini diabaikan, terjadinya kekacauan dan kerusakan yang besar di muka bumi tidak terhindarkan.
Perspektif ini sekaligus menyelesaikan 'kontroversi' di antara dua Hadits yang tampak berlawanan:
Dalam Hadits Imam Bukhari disebutkan, bahwa kaum Muslimin akan beraliansi dengan kaum Rum di akhir zaman. Sementara ada Hadits lain yang diriwayatkan oleh Ahmad, Abu Daud dan Ibnu Majah bahwa umat Islam akan berperang dengan kaum Rum.
(Lihat Hadits ke 343 dan 345 dalam buku Abu Fatiah Al-Adnani, "400 Hadits Akhir Zaman").
Bagaimana mungkin kaum Muslimin akan beraliansi dengan suatu kaum yang juga akan diperanginya?
Kedua Hadits ini tidak bisa difahami terlepas dari induknya, yaitu Surat Al-Anfal Ayat 73. Bahwa di akhir zaman umat Islam akan beraliansi dengan Rum Timur dalam berperang melawan Rum Barat.
Tanda-tanda munculnya aliansi yang dimaksudkan Ayat dan Hadits ini mulai tampak dalam Perang Timur Tengah saat ini, dimana Rusia dan sekutunya, khususnya Iran dan Syria, sudah mulai terlibat dalam kancah peperangan menghadapi zionis Israel yang didukung sepenuhnya oleh AS dan Sekutu NATO-nya.
Frasa "...jika kamu tidak melaksanakan apa yang telah diperintahkan Allah (saling melindungi dengan membangun aliansi), niscaya akan terjadi kekacauan di bumi dan kerusakan yang besar", pada Ayat di atas, mengisyaratkan bahwa Ayat ini bisa difahami dengan cara ini: bahwa Al-Qur'an sedang mengantisipasi akan ada bagian dari dunia Islam yang membangun aliansi yang salah.
Faktanya, dalam menyikapi masalah Palestina, dunia Islam, khususnya dunia Arab, terpecah ke dalam empat kelompok: ada yang terang-terangan mendukung Palestina, bersikap netral, mendukung Israel, dan ada yang berpura-pura mendukung Palestina padahal sebenarnya mendukung zionis Israel.
Jika peringatan Allah dalam Ayat ini diabaikan, maka dunia tidak terhindarkan akan mengalami perang besar yang akan berdampak pada terjadinya kekacauan dan kerusakan yang besar di muka bumi.
Frasa kalimat dalam Ayat ini mengisyaratkan setidaknya dua hal: Pertama, akan terjadi kekacauan dan kerusakan besar di bumi jika dunia Islam bersikap netral atau membangun aliansi yang salah dalam menyikapi perang Palestina.
Kedua, frasa "kekacauan dan kerusakan besar" merujuk kepada penggunaan senjata pemusnah masalah, seperti nuklir, dalam perang besar itu. Itu sebabnya disebut _Malhamah Kubra_ atau _Armageddon_.
Semoga artikel ini akan sampai kepada Pemerintahan kita yang baru, sehingga bisa mengambil tindakan antisipatif yang diperlukan dalam menghadapi skenario terburuk.
Fokus kebijakan setidaknya mencakup dua hal: Pertama, tidak bersikap netral absolut dalam merespon konflik global, apalagi membangun aliansi yang salah. Kedua, mengambil langkah-langkah antisipatif yang diperlukan untuk mengurangi resiko kekacauan dan kerusakan jika perang besar benar-benar terjadi.
والله اعلم
NG. 14/10/24











