- PUTR Cianjur: Bersama Membangun Cianjur Era Baru di Milangkala ke-349
- BAZNAS Cianjur Tetap Hadir untuk Umat: Fokus Layanan Kesehatan dan Bantuan Perjalanan Saat Masa Tran
- Warga Cianjur Gugat Keterbukaan Putusan Etik DPRD soal Dugaan Penyelewengan Dana Reses
- BAZNAS Cianjur Renovasi Rumah, Hadirkan Harapan Baru untuk Keluarga Ibu Siti
- Optimalkan BOSP Kinerja 2026: 124 SD di Cianjur Diberi Sosialisasi untuk Tingkatkan Mutu Pendidikan
- DPRD Cianjur dan Kejaksaan Tandatangani Kesepakatan: Perkuat Kepastian Hukum Tata Kelola Daerah
- DPRD Cianjur dan Kejaksaan Tandatangani Kesepakatan: Perkuat Kepastian Hukum Tata Kelola Daerah
- Pemkab Cianjur Bagikan 100 Sertifikat dan 65 Kepesertaan BPJS Ketenagakerjaan di Agrabinta
- Wagub Erwan Serukan Masyarakat Jabar Berpartisipasi dalam Sensus Ekonomi 2026
- Dinas Pendidikan Cianjur Atasi 2.079 Calon Siswa Belum Tembus SPMB: Solusi dan Arahan untuk Orang Tu
Circle Pertemanan: Ketika Nongkrong Jadi Ajang Negatif yang Menggerus Mental
Oleh: Siti Nurasyifa
.jpg)
Keterangan Gambar : Ilustrasi (Generate AI)
PinusNews.id -Pertemanan itu mestinya jadi tempat kita recharge energi: saling support, tukar ide, dan tumbuh bareng. Circle yang sehat bisa bikin kita merasa diterima, dihargai, dan termotivasi untuk jadi versi terbaik diri sendiri. Tapi kenyataannya, nggak semua circle kayak gitu. Ada juga lingkaran yang malah berubah jadi toxic — obrolannya penuh gosip, sindiran, atau nge-judge orang lain tanpa alasan jelas. Hasilnya? Nggak bikin maju, malah bikin stuck.
Circle toxic biasanya punya pola yang sama: obrolan berputar di hal-hal negatif, komentar nyinyir, atau sekadar bahas kekurangan orang lain. Kalau kamu kebetulan ada di lingkungan kayak gini, efeknya pelan-pelan tapi nyata. Kata-kata merendahkan, komentar yang bikin insecure, sampai obrolan yang nyudutin bikin harga diri turun dan bikin ragu sama kemampuan diri sendiri. Bukannya dapet motivasi, yang ada malah energi mental terkuras.
Pertanyaannya: worth it nggak bertahan di circle yang cuma bikin down? Jawabannya jelas: nggak. Stay di circle toxic bukan tanda loyalitas, tapi bentuk kita abai sama kesehatan mental sendiri. Circle yang sehat itu harusnya punya vibe saling respect, komunikasi terbuka, dan tujuan bareng yang positif. Bukan sekadar nongkrong buat ngomongin hal-hal yang nggak ada faedahnya.
Baca Lainnya :
- Hebat, Cianjur Punya Dana 15 Miliar untuk Jaminan Persalinan
- Kasus Positif Covid-19 di Cianjur Meningkat, Rakyat Ngantri Swab Test
- PT. SAC Bantu Pemerintah dalam Program Usaha Petani Porang di Cianjur
- 60 Pasien ODGJ Yayasan Rumah Pulih Jiwa Telah Sembuh, Tapi Pemda Cianjur Tutup Mata
- Pesantren Roboh, Belasan Santri Tertimpa Bangunan
Gen Z punya tantangan unik: kita hidup di era digital, di mana circle nggak cuma ada di dunia nyata, tapi juga di grup chat, forum online, atau media sosial. Kadang, toxic vibes itu muncul justru dari interaksi virtual. Scroll timeline penuh komentar negatif bisa bikin mental drop sama kuatnya dengan circle nongkrong yang nggak sehat. Itu sebabnya, penting banget buat kita sadar dan berani ambil sikap.
Menjauh dari lingkungan toxic bukan berarti anti-sosial, tapi langkah bijak buat jaga mental dan maksimalkan potensi diri. Kita berhak milih circle yang bikin kita grow, bukan yang bikin kita runtuh. Circle yang sehat itu jelas arahnya: ada dukungan nyata, ada semangat bareng, dan ada tujuan yang bikin kita berkembang.
Pada akhirnya, circle bukan sekadar tempat kumpul. Circle adalah ruang tumbuh. Jadi, jangan ragu buat keluar dari lingkaran yang cuma menggerus energi. Karena hidup terlalu berharga buat dihabiskan di ruang yang nggak bikin kita bertumbuh. (if)











