- Rekrutmen Planet Ban di Cianjur Dijadwalkan Ulang, Simak Jadwal Terbarunya
- Pelayanan Dekat, Aspirasi Terdengar: Bupati Cianjur Hadir di Rembug Warga Desa Cidadap
- Disnakertrans Cianjur Buka 14 Pelatihan Gratis untuk Siapkan Tenaga Kerja Kompeten
- BAZNAS Bangun Rumah Layak Huni untuk Lim dan Solihin, Tempat Pulang yang Lebih Nyaman
- Hiring Day Cianjur Buka Peluang Kerja, Disnakertrans Perkuat Penempatan Pencari Kerja
- Ketua PSI Cianjur Minta Membaca Putusan MK dengan Utuh, Menjaga Politik Tetap Jernih
- DTPHP Cianjur Kawal Penyaluran Pupuk Subsidi, Serapan NPK Tembus 61 Persen
- Kabid SD Disdikpora Cianjur Pimpin Tim Verifikasi Perpanjangan Izin An Nashir Primary School
- DPPKBP3A Cianjur Perkuat Peran Keluarga: Pendampingan Menyeluruh untuk Korban TPPO
- BAZNAS Cianjur Salurkan Bantuan dalam Acara Rembug Warga di Sukanagara
Cianjur Salah Satu Daerah Tertinggi Kasus Perempuam dan Anak Jadi Korban Eksploitasi

Keterangan Gambar : Kepala Bidang Pemberdayaan dan Perlindungan Perempuan dan Anak DPPKB3A Cianjur, Tenti Maryanti.
Pinusnews.id - Kabupaten Cianjur menjadi salah satu daerah dengan kasus tindak pidana perdagangan orang (TPPO) tertinggi di Jawa Barat.
Berdasarkan data Dinas Pengendalian Penduduk, Keluarga Berencana, Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DPPKB3A), sepanjang 2023 hingga 2024 tercatat 28 kasus, tersebar di sejumlah kecamatan.
Kepala Bidang Pemberdayaan dan Perlindungan Perempuan dan Anak DPPKB3A Cianjur, Tenti Maryanti, mengatakan angka tersebut bahkan lebih tinggi dibanding catatan Pemerintah Provinsi Jawa Barat yang merekam 22 kasus.
Baca Lainnya :
- Pemdes Tanjungsari Sukaluyu Bagikan BLT
- Peranan PT. Bukit Naga Mas Kembangkan UMKM di Cianjur
- Ini Hasil Penghitungan Suara Pilkada Cianjur 2020
- Geger, Mayat Pria Ditemukan Meninggal  dalam Rumah
- BNN RI Intip Program Desa Bersih Narkoba di Cianjur
Menurutnya, secara geografis, posisi Cianjur yang strategis kerap dimanfaatkan pelaku sebagai jalur transit maupun perlintasan, sehingga risiko perdagangan orang menjadi lebih tinggi.
"Penanganan korban tidak cukup hanya memulangkan ke kampung halaman. Ada persoalan psikologis, sosial, hingga ekonomi yang harus dipulihkan agar mereka tidak kembali terjerat," ujarnya, Jumat (15/8/2025).
Kasus-kasus tersebut umumnya melibatkan perempuan dan anak yang dijanjikan pekerjaan layak, namun berakhir menjadi korban eksploitasi. Pemerintah daerah menegaskan perlindungan terhadap perempuan harus menjadi tanggung jawab bersama, dengan fokus pada pencegahan, penanganan, dan rehabilitasi korban.
“Perempuan bukan komoditas. Mereka harus bebas dari segala bentuk eksploitasi dan perdagangan orang. Semua pihak, tanpa kecuali, memiliki tanggung jawab moral dan hukum untuk memastikan tidak ada lagi korban TPPO di Cianjur,” tegasnya. (tim dens).











