- Kotak Amal BAZNAS Cianjur: Sedekah Kecil, Manfaat Besar untuk Sesama
- Dinas Pertanian Cianjur Perkuat Hilirisasi Produk Unggulan Daerah Bersama BRIN
- Pemerintah Cianjur Diperintahkan Hadir Lebih Dekat untuk Warga Terdampak Bencana
- Bersinergi untuk Membangun Cianjur: BAZNAS dan Pemkab Perkuat Pelayanan Masyarakat
- Pemkab Cianjur dan Kejaksaan Perkuat Sinergi Hukum demi Pembangunan yang Bersih
- Guru Jadi Benteng Utama: Disdikpora Cianjur Perkuat Sekolah Aman dari Kekerasan
- DPPKBP3A Cianjur Hadir di Sekolah, Bangun Generasi Sadar Kependudukan Sejak Dini
- Rekonsiliasi Pajak Daerah: Upaya untuk Menjaga Kepercayaan Publik di Cianjur
- Diskumdagin Cianjur Perkuat UMKM: Dari Legalitas hingga Pasar Digital
- DPMPTSP Cianjur Dorong Investasi Kesehatan demi Pertumbuhan Ekomomi Daerah
Bukan Soal Buruknya Manajemen, Tapi RSUD Sayang Cianjur Rugi Rp20 Miliar, Apa Sebabnya?

Keterangan Gambar : Plt Direktur Utama RSUD Sayang Cianjur, dr. Yuli Hendrayani.
Pinusnews.id - Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Sayang Cianjur tengah menghadapi badai finansial. Pasalnya, Sepanjang tahun 2024, rumah sakit milik pemerintah daerah ini mencatat kerugian fantastis yang menembus angka Rp20 miliar.
Tapi masalah itu ternyata bukan karena buruknya manajemen, melainkan karena melonjaknya jumlah pasien yang tak mampu membayar biaya perawatan, dan hanya meninggalkan KTP sebagai jaminan.
Terkait hal tersebut, Plt Direktur Utama RSUD Sayang Cianjur, dr. Yuli Hendrayani, mengungkapkan bahwa mayoritas pasien yang menjaminkan KTP adalah warga tanpa BPJS Kesehatan, atau mereka yang mengalami kelebihan biaya di luar plafon tanggungan BPJS.
Baca Lainnya :
- Laka Tunggal, Mobil Pick Up Terjun Bebas ke Jurang di Naringgul
- Gegerkan Warga, Mayat Laki-laki Tanpa Identitas Ditemukan di Sungai Cikondang Cibeber Cianjur
- BPBD Cianjur : Tebing Pasir atau Hutan Rawan Longsor di Cianjur, Sudah Terakomodir 2021
- Perlu Perhatian Serius, Tebing Pasir Cilumping di Cibeber Rawan LongsorÂ
- Petugas Perekaman Disdukcapil Cianjur Terjun ke Kecamatan dan Desa
“Banyak pasien datang tanpa perlindungan jaminan kesehatan memadai. Karena keterbatasan ekonomi, mereka hanya bisa tinggalkan KTP dan janji, tapi tagihan terus menggantung,” ungkap dr. Yuli Hendrayani, di Cianjur, belum lama berselang.
Namun ironisnya, tak sedikit dari tunggakan itu berasal dari pasien titipan oknum-oknum tertentu, maupun komunitas sosial lokal yang juga menggunakan cara serupa.
“Mereka menjamin pasien, tapi ketika sudah pulang, tidak sedikit yang menghilang begitu saja,” tambahnya.
RSUD Sayang sudah membentuk tim khusus penagihan, namun hasilnya jauh dari harapan. Banyak pasien yang tak lagi tinggal di alamat tertera di KTP, bahkan ada yang secara terang-terangan menolak membayar.
“Beberapa sudah kami sambangi, tapi nihil. Ada yang tak bisa ditemukan, ada yang menutup pintu, seolah lupa pernah dirawat di sini,” ujarnya dengan nada prihatin.
Menghadapi gelombang kerugian ini, RSUD Sayang Cianjur kini mendorong koordinasi dengan Pemkab Cianjur dan instansi terkait, untuk menciptakan regulasi yang lebih tegas dan efektif.
“Rumah sakit adalah layanan publik, tapi jika dibiarkan begini terus, kami yang sakit lebih dulu. Perlu solusi konkrit agar pelayanan tetap berjalan tanpa terus menanggung beban yang ditinggal diam-diam,” pungkas dr. Yuli Hendrayani. (dens).











