- Jejak Hilman Saukani Membawa BAZNAS Cianjur Lebih Transparan dan Dipercaya
- Menabur Kepedulian, Menuai Kesiapsiagaan: Ribuan Pelajar Cianjur Ikuti Pelatihan dan Pelantikan PMR
- DPPKBP3A Cianjur Kukuhkan SD Ibu Jenab 2 sebagai Sekolah Ramah Anak
- Syukuran dan Komitmen Disbudpar Cianjur Menumbuhkan Kampung Budaya Padi Pandanwangi
- SIROJA, Ikhtiar Camat Mande Memperkuat Ketakwaan dan Kebersamaan
- DLH Cianjur Ajak Warga Bersihkan Sampah untuk Lingkungan yang Nyaman dan Sehat
- DPRD Cianjur Sepakati Perubahan APBD 2026: Sinergi Legislatif-Eksekutif untuk Rakyat
- Revitalisasi SMPS Karakter Daarul Arsyad: Wajah Baru Sekolah dan Bangkitkan Semangat Belajar
- BAZNAS Cianjur dan Sholat Istisqo: Dari Doa dan Sedekah Harapkan Hujan di Cianjur
- Kolaborasi Kemenag dan BAZNAS Cianjur, Menguatkan Usaha Masyarakat dari KUA
Jejak Hilman Saukani Membawa BAZNAS Cianjur Lebih Transparan dan Dipercaya

Keterangan Gambar : H. Hilman Saukani, M.Pd.
Pinusnews.id - Menjelang akhir September 2026, satu bab penting dalam sejarah Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) Kabupaten Cianjur tertutup. H. Hilman Saukani, M.Pd., yang selama dua periode (2015–2026) mengabdi sebagai salah satu pimpinan lembaga, memutuskan untuk tidak mencalonkan diri kembali. Kepulangannya ke dunia sipil bukan berarti akhir kontribusi, melainkan penanda bahwa satu dekade pengabdian tulus telah meninggalkan jejak yang sulit dilupakan.
Hilman bukan sekadar nama di struktur organisasi. Ia adalah figur yang ikut membentuk wajah BAZNAS Cianjur hari ini, yakni lebih transparan, akuntabel, dan berorientasi pada kepercayaan publik. Selama menjabat sebagai Wakil Ketua II (2015–2017) lalu Wakil Ketua IV (2018–2026), ia konsisten mendorong tata kelola dana zakat, infak, dan sedekah (ZIS) yang profesional. Prinsip “Tiga Aman” yang digaungkan BAZNAS—Aman Syar’i, Aman Regulasi, dan Aman NKRI—menjadi kompas dalam setiap keputusan yang diambilnya.
“Tiga Aman” sendiri bukan slogan kosong. Ia adalah pilar tata kelola yang memastikan dana umat dikelola sesuai syariat, mematuhi regulasi negara, dan tidak disalahgunakan untuk kepentingan yang merusak keutuhan NKRI. Hilman pernah menegaskan, “BAZNAS Kabupaten Cianjur selalu berpedoman pada tiga pakem, yakni aman regulasi, aman syar’i, dan aman NKRI.” Bagi Hilman, ini bukan hanya soal kepatuhan administratif, melainkan cara menjaga kepercayaan masyarakat bahwa setiap rupiah ZIS mereka sampai kepada yang berhak.
Baca Lainnya :
- Kamis, Digelar Vaksinasi di Cianjur, Siapa yang Pertama Divaksin?
- Polisi Bekuk Oknum Pendamping PKH Maling Dana KPM Ratusan Juta Rupiah
- Mantaap, Cianjur Jadi Tuan Rumah HPN 2021
- Aneh, Soal BPNT Warga Dapat Ayam Hidup Bukan Daging Ayam
- Pekerja Pembangunan Gedung Setda Cianjur Bagai "Superman"
Yang menarik dari sosok Hilman adalah kesederhanaan prinsip kerjanya: “Kerjakan apa yang bisa dikerjakan.” Ia tidak banyak bicara, tetapi lebih memilih aksi nyata. Baginya, amanah adalah tanggung jawab yang harus dituntaskan sebaik-baiknya, sekecil apa pun itu. Pendekatan ini membuat ia dihormati bukan karena retorika, melainkan karena konsistensi dan integritas dalam menjalankan tugas. Dalam dunia yang sering kali mengagungkan popularitas, Hilman membuktikan bahwa kerja diam-diam pun bisa menghasilkan dampak besar.
Sebagai seorang pendidik, Hilman juga memahami kekuatan komunikasi. Ia dikenal sangat dekat dengan para jurnalis di Cianjur. Ruang komunikasi yang terbuka dan kemudahan akses informasi menjadikannya “sahabat insan pers”. Dampaknya nyata adalah banyak program BAZNAS Cianjur yang tersampaikan secara luas kepada masyarakat. Bagi Hilman, jurnalis adalah mitra strategis dalam menyebarluaskan kebaikan dan mengedukasi masyarakat tentang pentingnya menunaikan zakat.
Jejak kinerja Hilman juga tercermin dari capaian institusional BAZNAS Cianjur. Lembaga ini secara konsisten meraih Opini Wajar Tanpa Pengecualian (WTP) atas laporan keuangannya, termasuk pada tahun 2025. Hasil audit menunjukkan tidak ada penyimpangan dalam penggunaan dana ZIS, bahkan terhadap isu-isu sensitif lainnya. Semua ini adalah buah dari sistem pencatatan dan pengelolaan keuangan yang profesional sebagai warisan dari kepemimpinan seperti Hilman.
Kini, setelah sepuluh tahun mengabdi, Hilman meninggalkan BAZNAS Cianjur dengan catatan sederhana namun mendalam yaitu pengabdian tidak butuh slogan besar. Cukup dengan kerja tulus, komunikasi yang baik, dan konsistensi atas tugas dan tanggung jawab. Seperti ia pernah tunjukkan, perubahan signifikan tidak selalu datang dari teriakan keras, tetapi dari langkah-langkah kecil yang dilakukan dengan istikamah. Dan dalam konteks BAZNAS Cianjur, langkah-langkah itu telah membawa lembaga ini lebih dekat pada kepercayaan publik. (dens).










